SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

A.    Pendahuluan

  1. Latar belakang

Sifat yang bergantung pada banyaknya partikel zat terlarut dan tidak pada macamnya disebut sebagai sifat koligatif larutan. Sifat koligatif larutan adalah sifat-sifat larutan yang tidak tergantung pada jumlah jenis zat terlarut, tetapi tergantung pada konsentrasi partikelnya. Beberapa sifat fisik suatu larutan berbeda dengan sifat pelarut murninya. Sebagai contoh, air murni yang membeku pada suhu 0ºC, sedangkan larutan yang menggunakan pelarut air membeku lebih dari 0ºC.

Larutan yang mengandung jumlah partikel zat terlarut yang sama, akan mempunyai sifat koligatif yang sama, meskipun jenis zat yang dilarutkan pada masing-masing larutan itu berbeda-beda. Makin banyak jumlah partikel zat

terlarut makin besar pula harga sifat koligatifnya. Sifat koligatif merupakan beberapa sifat fisis larutan yang bergantung pada jumlah patikel zat terlarut, tetapi tidak tergantung pada jenis zat terlarut tersebut.

Sifat yang dibahas dalam praktikum hanyalah kenaikan titik didih saja. Pada dasarnya, jika kedalaman suatu zat pelarut dimasukkan zat lain yang tidak mudah menguap (non volatil), maka tenaga bebas pelarut tersebut akan turun. Penurunan tenaga bebas ini akan menurunkan hasrat zat pelarut untuk menjadi fase uapnya, sehingga tekanan uap pelarut dalam larutan akan lebih rendah jika dibandingkan dengan tekanan uap pelarut dalam keadaan murni. Sebagai larutan dibanding titik didih pelarut murni dalam keberadaan zat terlarut non volatil. Besar nilai kenaikan titik didih ini dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan berat molekul zat non volatil yang terlarut.

2. Tujuan praktikum

Tujuan dari praktikum acara 3 dengan judul Sifat Koligatif Larutan adalah:

a. Menentukan perubahan titik didih larutan

b. Menentukan BM zat non volatile

3. Waktu dan tempat

Praktikum kimia dasar dengan judul “Sifat Koligatif Larutan” dilaksanakan pada hari Kamis, 25 November 2010, pukul 09.30-11.00 WIB. Di laboratorium Biologi Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta.

B.    Tinjauan pustaka

Sifat koligatif merupakan beberapa sifat fisis larutan yang bergantung pada jumlah patikel zat terlarut, tetapi tidak tergantung pada jenis zat terlarut tersebut. Kata koligatif berasal dari bahasa latin Colligare yang berarti berkumpul bersama, hal ini dikarenakan sifat koligatif bergantung pada pengaruh kebersamaan (kolektif), semua partikel dan tidak pada sifat dan keadaan partikel. Suatu zat apapun, jika melarut dengan memberikan jumlah partikel yang sama, maka larutannya akan memperlihatkan sifat koligatif yang sama. Bila zat non elektrolit, dimasukkan kedalam pelarut murni, maka akan merubah sifat-sifat larutan tersebut (Vogel, 1982).

Dalam penentuan Tf dan Tb, suhu harus mengalami perubahan (suhu tidak konstan) oleh karena itu dipakai satuan konsentrasi molal yang tidak bergantung pada suhu. Satuan konsentrasi molar tidak cocok dipakai karena perubuhan suhu akan mempengaruhi keadaan volume. Harga ∆Kf dan ∆Kb merupakan tetapan yang hanya bergantung pada jenis pelarut, setiap pelarut memiliki harga ∆Kf dan ∆Kb msing-masing diperoleh dari hasil suatu eksperimen yaitu dengan cara mengukur Tf dan Tb dari larutan tersebut tetap; molal dalam pelarut yang bersangkutan diatas (Achmad, 2001).

Hukum Raoult menyatakan bahwa tekanan uap suatu komponen yang menguap dalam larutan sama dengan tekanan uap yang menguap murni yang dikalikan dengan fraksi mol komponen yang menguap dalam larutan , pada suhu yang sama. Larutan yang mengikuti hokum roult disebut larutan ideal. Syarat larutan ideal adalah molekul zat terlarut dan molekul pelarut tersusun sembarang, pada pencampuran tidak terjadi efek kalor dan jumlah volume sebelum pencampuran sama dengan volume campurannya (selisih volumenya nol). Larutan yang tidak memenuhi hukum Roult disebut larutan nol ideal (Anonim, 2001).

Tiap thermometer (gas volume konstan) dapat dipakai untuk menunjukkan konstannya suatu suhu jika suhu termometernya tetap konstan. Suhu pada saat zat padat dan zat cair yang terjadi dan bahan yang sama berbeda bersama kesetimbangan fase hanya pada saat suatu suhu tertentu. Kesetimbangan berarti bentuk padat atau padat menjadi cair. Begitu pula suatu cairan akan berasa dengan kesetimbangan fase dengan uapnya hnya pada suatu suhu tertentu bila tekanan dibuat konstan (Sears, 1962).

Pada setiap suhu, suatu larutan memilki tekanan yang lebih rendah dari pada pelarut murninya. Akibatnya pada diagram hubungan antara tekanan dan suhu terlihat jelas jika bahan titik didih larutan selalu tinggi serta titik beku larutan selalu rendah jika dibandingkan dengan titik beku pelrut murninya. Air murni pada tekanan 1 atm memiliki titik beku 0oC. Jika dalam air kita larutkan zat, maka titik beku larutannya akan lebih rendah dan titik didihnya akan lebih tinggi dari 100oC. Besarnya penurunan titik beku (∆Tf) dan kenaikan titk didih (∆Tb) hanya ditentukan oleh jumlah partikel zat tersebut . Makin banyak partikel zat terlarut maka makin besar pula Tf dan Tb (Anshory. 1999).

C.    Alat, Bahan, dan Cara kerja

  1. Alat

a. Erlenmeyer

b. Gelas ukur

c. Waterbath

d. Thermometer

e. Stopwatch

f. Penjepit

2. Bahan

a. Aquades

b. 5 gr urea

3. Cara Kerja

a. Menimbang 5 gr urea

b. Melarutkan 5 gr urea dalam 75 ml aquades dan mengaduknya

c. Menentukan titik didih larutan dan pelarut dengan pemanasan dalam waterbath dengan suhu 75

d. Mengukur perubahan suhu larutan tiap 5 menit dan mencatatnya

e. Menentukan perubahan titik didihnya dan BM urea

. Hasil dan Analisis Hasil Pengamatan

  1. Hasil Pengamatan

Tabel 3.1 Kenaikan titik didih pelarut dan titik didih larutan

Waktu (menit)

Titik didih larutan °C (urea+air)

Titik didih Pelarut °C (air)

0

28

31

5

64

64

10

70

67

15

71

68

20

71

68

25

71

68

30

71

68

Sumber: Laporan sementara

2. Analisis hasil pengamatan

a. Menentukan titik didih larutan

Keterangan:

Tb: kenaikan titik didih

Tb larutan: titik didih larutan

Tb pelarut: titik didih pelarut

Diketahui:

Tb larutan = 71

Tb pelarut = 68

Ditanya: Tb…?

Jawab:

= 71°C – 68°C

= 3°C

b. Menentukan berat molekul urea

Keterangan:

BM urea: berat masa rumus urea

Kd: koefisiensi titik didih

W urea: masa urea

W air: masa air

Diketahui:

Kd= 0,513 gr/ml°C

W urea= 5 gr

W air=75

Ditanya: BM urea…?

Jawab:

=

 =

 = 11,4

 =11 gr/mol 

 E. Pembahasan dan Kesimpulan

1. Pembahasan

Sifat koligatif larutan adalah sifat yang hanya tergantung pada jumlah partikel zat terlarut dan tidak tergantung pada macam atau jenis zat terlarut. Pada praktikum kali ini membahas titik didih larutan yang merupakan salah satu dari sifat koligatif larutan. Titik didih  suatu larutan dapat lebih rendah dari titik didih pelarutnya dan dapat pula lebih tinggi dari pelarutnya, hal ini tergantung pada mudah tidaknya zat terlarut itu menguap dibandingkan zat pelarutnya.

Pada percobaan 5 gr yang dilarutkan dalam 75 ml aquades, dan kemudian ditentukan titik didih larutan dan pelarut. Dalam percobaan dapat dilihat semakin lama waktu pemanasan maka semakin tinggi suhunya. Pada penentuan titik didih larutan perlu diketahui suhu konstannya dari kedua larutan ini.

Perubahan titik didih dapat diketahui dengan pengurangan  titik didih larutan oleh titik didih pelarut (ΔTb = Tb Larutan – Tb Pelarut). Pada percobaan didapatkan titik didih larutan tertinggi adalah 71 yang terjadi pada menit 15, 20, 25, 30, yang juga merupakan suhu konstan pada titik didih larutan. Sedangkan pada titik didih pelarut adalah 68 , juga terjadi pada menit yang sama dengan titik didih larutan yaitu menit 15, 20, 25, 30, dan juga merupakan suhu konstan pada titik didih pelarut. Setelah dilakukan penghitungan dengan cara mengurangi titik didih larutan dengan titik didih pelarut maka didapatkan hasil perubahan titik didih yang terjadi adalah 3. Pada praktikum ini besarnya BM urea yaitu 11,4 gr/mol = 11 gr/mol, seharusnya adalah 60. Dalam praktikum kali ini diperlikan suatu ketelitian,  kesabaran, dan kecermatan dalam membaca angka thermometer, sehingga diharapkan tidak ada kesalahan sewaktu perhitungan dilakukan. Dan mungkin kami kurang teliti dalam mengukur suhu pada masing-masing larutan, yang menyebabkan dan mempengaruhi bessar kecilnya nilai berat masa urea.

2. Kesimpulan

Dari percobaan dan analisis yang telah dilakukan maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

  1. Sifat koligatif adalah sifat yang disebabkan hanya oleh kebersamaan (jumlah partikel) dan bukan oleh ukurannya. Sifat koligatif tergantung pada konsentrasi zat terlarut.
  2. Kenaikan titik didih (ΔTd) yang diperoleh sebesar 3.
  3. Besarnya titik didih larutan adalah 71  dan besarnya titik didih air adalah 68  sehingga didapatkan kenaikan titik didih sebesar 3.
  4. Kenaikan titik didih berbanding lurus dengan BM urea, jika kenaikan titik didih makin besar maka BM urea juga semakin besar dan sebaliknya.
  5. Besarnya BM urea adalah 11 gr/mol.
  6. Penambahan suatu zat terlarut pada suatu palarut akan mengakibatkan kenaikan titik didih larutan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s