PEMUPUKAN LEWAT DAUN

A.    Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Pupuk adalah zat yang ditambahkan kedalam media tanam atau tanaman guna mencukupi kebutuhan hara yang tidak bisa dipenuhi oleh tanah tempat tumbuhnya. Fungsi dan manfaat pupuk telah diketahui orang. Tak sedikit yang hapal fungsi masing-masing unsur hara penyusun pupuk. Nitrogen (N) bermanfaat untuk daun, phospor (P) untuk pembungaan, dan kalium (K) untuk buah. Banyak buku, majalah, dan brosur pertanian yang menjelaskan hal tersebut.

Material atau zat pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen, pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen. Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan.

Diantara sekian banyak metode pemupukan salah satunya adalah pemupukan lewat daun. Pemupukan lewat daun ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan pemupukan lewat daun ini diantaranya adalah penyerapan unsure haranya lebih cepat, bisa ditambahkan unsur mikro, karena pupuk (kimia) yang dilewatkan akar kebanyakan hanya megandung unsur hara makro saja, kecuali kalau tanah sering diberi pupuk organik maka pupuk hara mikro tersedia juga. Tidak terjadi pengikatan unsur hara seperti halnya tanah dimana sebagian unsur hara akan diikat dengan kuat oleh partikel tanah dan sulit untuk dilepaskan sehingga tanah akan terhindar dari kerusakan.

Penyemprotan pupuk lewat daun ini sebaiknya di berikan pada bagian bawah permukaan daun. Karena stomata daun lebih banya terdapat dibawah permukaan daun. Dan penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi hari atu sore hari. Hal ini berkaitan dengan sinar matahari yang diterima tanaman, bila terlalu panas maka daun akan mengalami penguapan yang besar dan semua unsure yang disemprotkan akan ikut menguap juga. Jadi semua akan sia-sia sebab semua unsure yang diberikan tidak dapat digunakan atau diserap tanaman secara efektif.

2. Tujuan

Praktikum acara “Pemupukan Lewat Daun” ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk daun terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.

B.     Metode

  1. Waktu dan Tempat

Praktikum acara “Pemupukan Lewat Daun” ini dilakukan mulai tanggal 04 Mei 2011 di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Alat dan Bahan

a. Alat

  • Polybag
  • Takaran
  • Sprayer
  • Penggaris
  • Ember plastik
  • Gunting
  • Cetok
  • Timbangan

b. Bahan

  • Koran
  • Benih sawi (Bransica rafa )
  • Pupuk daun Gandasil D
  • Tanah
  • Air

c. Cara Kerja

  1. Mengambil tanah yang telah disediakan ke dalam polybag dan mengambil pupuk kandang dengan perbandingan 2:1.
  2. Mengaduk campuran tanah dan pupuk kandang hingga merata ke dalam ember plastik. Kemudian menaruh campuran tanah dan pupuk kandang ke dalam polybag dan membasahinya dengan air secukupnya.
  3. Memasukkan bibit sawi kedalam media tanam, menyiram benih setiap pagi dan mengamati pertumbuhan setiap seminggu sekali.
  4. Mencatat tinggi tanaman yang diamati seminggu sekali dan melakukan penyemprotan pada daun sesuai perlakuanya.
  5. Menimbang berat segar brangkasan dan Menimbang berat kering brangkasan pada akhir panen

C.    Hasil dan Pembahasan

  1. Hasil

Tabel 2.1 Tinggi Tanaman sawi

Perlakuan

Minggu ke- (cm)

1 (cm)

2 (cm)

3 (cm)

4 (cm)

5 (cm)

6 (cm)

Kontrol 6 8 10 12 16 19,5
14 HST 4,3 5 6 8 8,5 13
21 HST 5 6,5 8 8,5 9 14
28 HST 5 7 8,5 9 9,5 10,5

Sumber: Laporan Sementara

Grafik 2.1 Tinggi Tanaman Sawi

Tabel 2.2 Jumlah Daun Sawi

Perlakuan

Minggu ke- (helai)

1

2

3

4

5

6

Kontrol 4 10 16 21 26 31
14 HST 3 7 13 20 31 40
21 HST 2 5 8 10 12 16
28 HST 5 10 20 28 32 44

Sumber: Laporan Sementar

Tabel 2.3 Berat Berangkasan Segar dan Kering tanaman sawi

Perlakuan

Berat Segar Berangkasan (gr)

Berat Kering Berangkasan (gr)

Kontrol 4,18 0,29
14 HST 0,54 0,04
21 HST 0,54 0,03
28 HST 0,68 0,05

Sumber: Laporan Sementara

2. Pembahasan

Sawi atau Caisin (Brassica sinensis L) termasuk famili Brassicaceae, daunnya panjang, halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Sawi mengandung pro vitamin A dan asam askorbat yang tinggi. Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi.

Batang tanaman sawi pendek sekali dan beruas-ruas sehingga hampir tidak kelihatan. Batang ini berfungsi sebagai alat pembentuk dan penopang daun. Tanaman sawi umumnya mudah berbunga dan berbiji secara alami baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Stuktur bunga sawi tersusun dalam tangkai bunga (inflorescentia) yang tumbuh memanjang (tinggi) dan bercabang banyak. Tiap kuntum bunga sawi terdiri atas empat helai daun kelopak, empat helai daun mahkota bunga berwarna kuning cerah, empat helai benang sari dan satu buah putik yang berongga dua (Rukmana, 2002).

a. Klasifikasi Sawi

Divisi         : Spermatophyta

Subdivisi   : Angiospermae

Kelas         : Dicotyledone

Ordo          : Rhoeadalea (Brassicales)

Family       : Cruciferae (Brassicaceae)

Genus        : Brassica

Spesies      : Brassica juncea

Sistem perakaran tanaman sawi memiliki akar tunggang dan cabang-cabang akar yang bentuknya bulat panjang (silindris) menyebar kesemua arah dengan kedalaman antara 30-50 cm. Akar-akar ini berfungsi antara lain mengisap air dan zat makanan dari dalam tanah, serta menguatkan berdirinya batang tanaman (Sunarjono, 2004).

b. Jenis-Jenis Sawi

Petani kita hanya mengenal 3 macam sawi yang biasa dibudidayakan yaitu: sawi putih (sawi jabung), sawi hijau, sawi huma.

  • Sawi putih (Brassica rugosa

Sawi putih, suku sawi-sawian atau Brassicaceae dikenal sebagai sayuran olahan dalam masakan Tionghoa, karena itu disebut sawi cina. Disebut sawi putih karena daunnya cenderung kuning pucat dan tangkai daunnya putih. Sawi putih beraroma khas namun netral.

  • Sawi hijau (Brassica juncca)

Varietas ini berdaun besar dan hidup di tanah kering, dari tanaman yang sama ini rasanya agak tajam.

  • Sawi huma (Brassica juncea)

Varietas yang satu ini berbatang panjang dan berdaun sempit. Tanaman ini tak tahan terhadap hujan, tidak mudah diserang oleh ulat. Sawi ini berbulu dan rasanya tajam, biasanya banyak ditemukan  di sawah-sawah dan hanya dimakan di pedalaman.

Sawi bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dikembangkan di Indonesia ini. Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi. Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.

Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bils di tanam pada akhir musim penghujan. Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7 (Zuldesains, 2008).

Pemberian pupuk bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman, sehingga pupuk diberikan pada saat yang menunjukkan sejumlah kebutuhan tanaman akan pupuk itu agar diperoleh keuntungan yang tinggi. Selain itu pemupukan bertujuan  untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah agar tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertumbuhan tanaman. Pupuk adalah senyawa yang diberikan kedalam tanah atu bagian lain tanamn yang dapat mempertahankan atau menambah kesuburan tanah (Alpine, 2010).

Pemupukan melalui daun memberikan pengaruh yang lebih cepat terhadap tanaman dibanding lewat akar. Kecepatan penyerapan hara juga dipengaruhi oleh status hara dalam tanah. Bila kadar hara dalam tanah rendah maka penyerapan unsur hara melalui daun relatif lebih cepat dan sebaliknya bila kadar hara dalam tanah tinggi maka penyerapan unsur hara melalui daun relative rendah.  Pupuk daun merupakan pupuk organik yang mengandung unsur makro dan mikro (tunggal dan majemuk) dalam bentuk padat atau cair yang dapat langsung diserap oleh daun tanaman (Rosmarkam dan Yuwono, 2002)

Pengaruh pemberian pupuk yang didasarkan hari setelah tanam didapatkan bahwa tanaman dengan perlakuan penyemprotan pada 28 hari setelah tanam (HST) dari minggu pertama hingga minggu ke delapan adalah tanaman yang memiliki jumlah daun terbanyak, sedang tanaman yang memiliki jumlah dau terkecil adalah tanaman dengan perlakua penyemprotan pada 21 hari setelah tanam (HST). Sebenarnya  pengaruh pemberian pupuk sudah terlihat perbedaanya dari masing-masing perlakuan kerena pada data diketahui bahwa dari tanaman yang diberi pupuk pada 28 HST memiliki jumlah daun terbanyak, kemudian diikuti tanaman dengan perlakuan penyemprotan pada 14 HST, dan control, kecuali pada tanaman dengan perlakuan 21 HST memiliki jumlah daun yang lebih sedikit ketimbang yang lain dikarenakan tanaman pada perlakuan ini diserang hama pemakan daun.

Perbedaan antara tanaman kontrol dengan  tanamn perlakuan disini, sangatlah berbeda jauh. Dengan melihat dari jumlah daun dapat diketahui bahwa tanaman kontrol jumlah daunya dibawah tanaman perlakuan kecuali yang mengalami gangguan hama atau penyakit. Jadi pemberian pupuk memberikan perbedaan pada pertumbuhan daun. Namun pada pertumbuhan tinggi tanaman, dan berat segar berangkasan serta berat kering berangkasan tanamn kontrol lebih besar ketimbang tanam kontrol. Hal ini mungkin terjadi kerena faktor alam seperti kandungan hara yang di butuhkan oleh tanaman tidak semua terpenuhi oleh tanah. Penyinaran matahari, suhu, pemberian air yang kurang.

D.    Kesimpulan dan Saran

  1. Kesimpulan

Dari hasil dan pembahasan praktikum dapat diambil beberapa kesimpulan sebagi berikut:

  • Pupuk merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan dan hasil tanaman.
  • Pupuk daun dapat memenuhi unsure mikro yang di perlukan oleh tanaman.
  • Kandungan utama dari pupuk daun adalah NPK yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman.
  • Pemberian pupuk pada dau lebih cepat dampaknya ketimbang pemupukan lewat akar.
  • Keadaan unsur hara dalam tanag juga mempengaruhi proses keberhasilan pemupukan lewat daun.

2. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

  • Perawatan tanaman seperti penyiraman hendaknya dilakukan secara rutin.
  • Pemberian pupuk harus memperhatikan waktu yang tepat agar pupuk yang diberikan akan berguna secara efektif.
  • Pemupukan juga harus memperhatikan dosis dan konsentrasi penyemprotan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s