LONG LIFE EDUCATION IN ISLAM

BAB I

PENDAHULUAN

1.      Latar Belakang

Pendidikan di masa sekarang dinilai sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Karena dengan pendidikan manusia dapat menjaga dan meneruskan kehidupan mereka. Tak terkecuali di dalam Islam. Islam sangat mementingkan masalah tarbiyah (pendidikan). Pertama kali Allah menurunkan wahyu yaitu tentang perintah untuk membaca.

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan,( Al ‘Alaq 1)

Dari ayat itu bisa disimpulkan bahwa sebelum mengamalkan sesuatu, kita diharuskan untuk membaca, mempelajari sebelum mengamalkan. Syaikh Ibnu Ruslan dalam hal ini menyatakan: “Siapa saja yang beramal (melaksanakan amal ibadat) tanpa ilmu, maka segala amalnya akan ditolak, yakni tidak diterima”.Sholat tanpa ilmu akan sia-sia. Maka sebelum melakukan sholat, hendaknya mempelajari sholat terlebih dahulu. Islam mewajibkan setiap muslim baik muslimin maupun muslimat untuk bersungguh-sungguh dalam mengeyam pendidikan hingga akhir hayat. Apalagi tentang ilmu agama Islam. Dengan ilmu ini, Allah akan menyelamatkan manusia dari jilatan api neraka.

Belajar adalah cara untuk mendapatkan ilmu. Seperti sabda Nabi ,”Sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar.”

Banyak tokoh-tokoh Islam yang mengabdikan hidupnya untuk  belajar untuk memperkaya ilmu hingga ajal menjemput. Ilmu yang didapat berdasar kepada Al Qur’an dan Al hadist

Akan tetapi, bila telah mendapatkan ilmu, maka kewajiban selanjutnya adalah menyampaikannya. Karena sebagai khalifah dibumi, manusia wajib menyeru kepada kebaikan. Mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar.

BAB II

PEMBAHASAN 

A.      Konsep Pendidikan Seumur Hidup

  1. Muqadimah

Pendidikan merupakan suatu proses berkelanjutan yang mengandung unsur-unsur pengajaran, latihan, bimbingan dan pimpinan dengan tumpuan khas kepada pemindahan berbagai ilmu, nilai agama dan budaya serta kemahiran yang berguna untuk diaplikasikan oleh individu (pengajar atau pendidik) kepada individu yang memerlukan pendidikan itu.

Kegiatan pendidikan adalah kegiatan yang menjembatani antara kondisi-kondisi actual dengan kondisi-kondisi ideal, dan ini berlangsung dalam satuan waktu tertentu dan berbentuk dalam berbagai proses pendidikan yang merupakan serangkaian kegiatan atau langkah-langkah yang digunakan untuk mengubah kondisi awal peserta didik sebagai masukan menjadi kondisi ideal sebagia hasilnya .

Untuk lebih memperdalam pengtahuan tentang pendidikan ini, maka akan dikutibkan beberapa difinisi pedidikan dari para ahli yang berkompeten dalam bidang ini. Pakar pendidikan dari Amerika yakni John Dewey, berpandangan bahwa pendidikan ialah satu proses membentuk kecenderungan asas yang berupa akaliah dan perasaan terhadap alam dan manusia. Prof. Horne, yang juga tokoh pendidik Amerika, berpendapat bahwa pendidikan merupakan proses abadi bagi menyesuaikan perkembangan diri manusia yang merangkumi aspek jasmani, alam, akliah, kebebasan dan perasaan manusia terhadap Tuhan sebagaimana yang ternyata dalam akliah, perasaan dan kemahuan manusia.

Herbert Spencer, seorang ahli falsafah Inggris (820-903 M), memiliki pandangan bahwa pendidikan ialah mempersiapkan manusia supaya dapat hidup dengan ke hidupan yang sempurna. Sedangkan pakar pendidikan Indonesia yang juga Mantan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan RI, Drs Fuad Hassan saat menjadi pembicara kunci pada seminar nasional “Rekonstruksi dan Revitalisasi pendidikan Indonesia Menuju Masyarakat Madani”, di Widya Graha Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jln. Gatot Subroto Jakarta, berpendapat, pendidikan dalam arti luas merupakan ikhtiar yang ditempuh melalui tiga pendekatan, yaitu pembiasaan, pembelajaran, dan peneladanan. Ketiga aspek itu berlangsung sepanjang perjalanan hidup manusia.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut diatas, maka dapat dipahami bahwa pendidikan ialah proses melatih akal, jasmaniah dan moral manusia (peserta didik) untuk melahirkan warganegara yang baik serta menuju ke arah kesempurnaan bagi mencapai tujuan hidup.

2. Silsilah Hadis Long Life Education

Islam mengajarkan menuntut ilmu itu berlangsung seumur hidup dan tidak ada batasan waktu dalam mencarinya, muslim yang tua, muda, pria atau wanita, kaya dan miskin wajib atasnya untuk menuntut ilmu, karena ”Menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap Muslim.” (HR Thabrani).

Dan bahkan wahyu yang pertama kali turun kepada Rasulullah merupakan uswah pertama dalam menuntut ilmu, wahyu pertama yang beliau terima adalah perintah untuk menjadi orang berilmu melalui membaca (iqro’) , hal ini benar-benar menunjukan bahwa Islam mengajak dan memerintahkan kita untuk menjadi orang yang berilmu, yang salah sau jalannya adalah dengan terus belajar, sabda Rasulullah: “Barangsiapa melalui suatu jalan untuk mencari suatu pengetahuan (Agama), Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” Dan beliau S.a.w juga bersabda: “Sesungguhnya ilmu itu hanya diperoleh dengan belajar”.

3. Keutamaan Manuntut ilmu

Sungguh Islam menghargai ilmu pengetahuan dan mewajibkan seluruh ummat Islam untuk mempelajarinya. “ Menuntut ilmu wajib bagi muslimin dan muslimah” begitulah sabda Rasulullah S.a.w, beliau juga sangat menghargai orang yang berilmu, dan mengatakan bahwa orang yang berilmu (ulama) adalah pewaris para Nabi”.

Didalam menuntut ilmu Nabi S.a.w menyuruh agar ummat Islam menuntut ilmu secara berkelanjutan hingga ajalnya, dengan kata lain, seorang muslim haruslah berusaha untuk terus belajar setinggi-tingginya. Jangan sampai kalah dengan orang kafir. Ummat Islam jangan cuma mencukupkan belajar sampai SMA saja, tapi berusahalah hingga Sarjana, Master, bahkan Doktor  jika mampu. Dan jika ada yang tak mampu secara finansial, maka menjadi kewajiban kaum muslimin yang berkecukupan untuk membantunya.

Dan apabila kita mengamati kondisi sekarang ini, ternyata tingkat pengetahuan ummat Islam kalah telak dibandingkan dengan orang-orang kafir, hal ini boleh jadi disebabkan karena umat Islam sekarang tidak mengamalkan ajaran Islam dengan sungguh-sungguh, dan mengabaikan wasiat Rasulullah untuk terus menuntut ilmu. Sementara, orang-orang kafir memiliki tingkat keilmuan yang lebih baik, karena justru merekalah yang mengamalkan ajaran Islam, yakni kewajiban menuntut ilmu setinggi-tingginya. Saat ini akan sangat jarang kita menemukan ilmuwan muslim, sebaliknya, tingkat buta huruf sangat tinggi di negara-negara Islam. Hal itu jelas menunjukkan bahwa kemunduran ummat Islam bukan karena ajaran Islam, tapi karena ulah ummat Islam sendiri yang tidak mengamalkan perintah agamanya.

Jika kita menengok sejarah silam pada awal perkembangan Islam, dimana ketika itu ummat Islam bersedia melaksanakan ajaran untuk menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh, giat dan pantang menyerah dalam menuntut ilmu, maka banyak terlahirkan ilmuwan-ilmuwan muslim yang handal, dimana hasil karyanya masih menjadi referensi utama, baik oleh kaum muslim sendiri dan non muslim diseluruh belahan dunia. Tapi ummat Islam sekarang tidak lagi menghargai ilmu pengetahuan, malas untuk belajar, perintah Allah dan motivasi Rasul untuk terus mencari ilmu, hanya sekedar retorika belaka, sehingga tidak mengheran jika umat Islam kini menjadi bangsa yang terbelakang dan selalu tersingkirkan dalam persaingan global.

Kondisi yang demikian ini tidak boleh terus terjadi, ummat Islam kini harus bangkit, ilmu pengetahuan yang sesungguhnya milik kita harus diambil kembali, yakni dengan cara terus belajar, belajar sepanjang hayat, dari lahir hingga liang lahat. Dalam pandangan Al Ghazali, sesungguhnya menuntut ilmu itu ada yang fardu ‘ain (wajib bagi setiap Muslim) ada juga yang fardu kifayah (paling tidak ada segolongan ummat Islam yang mempelajarinya. Ilmu agama tentang mana yang wajib dan mana yang halal seperti cara shalat yang benar itu adalah wajib bagi setiap muslim. Jangan sampai ada seorang ahli Matematika, tapi cara shalat ataupun mengaji dia tidak tahu. Adapun ilmu yang memberikan manfaat bagi ummat Islam seperti kedokteran yang mampu menyelamatkan jiwa manusia, ataupun ilmu teknologi persenjataan seperti pembuatan tank dan pesawat tempur agar ummat Islam bisa mempertahankan diri dari serangan musuh adalah fardu kifayah. Paling tidak ada segolongan muslim yang harus menguasainya.

BAB III

PENUTUP 

1.      Kesimpulan

Fuad Hassan berpendapat, pendidikan dalam arti luas merupakan ikhtiar yang ditempuh melalui tiga pendekatan, yaitu pembiasaan, pembelajaran, dan peneladanan. Ketiga aspek itu berlangsung sepanjang perjalanan hidup manusia.

Pendidikan merupakan suatu proses berkelanjutan yang mengandungi unsur-unsur pengajaran, latihan, bimbingan dan pimpinan dengan tumpuan khas kepada pemindahan berbagai ilmu, nilai agama dan budaya serta kemahiran yang berguna untuk diaplikasikan oleh individu (pengajar atau pendidik) kepada individu yang memerlukan pendidikan.

Berdasarkan berbagai definisi, dapat difahamkan bahwa pendidikan ialah proses melatih akaliah, jasmaniah dan moral manusia untuk melahirkan warganegara yang baik serta menuju ke arah kesempurnaan bagi mencapai tujuan hidup.

Asas pendidikan seumur hidup yang mengandung kemungkinan diversifikasi sistem pendidikan, tampaknya konsepsi satu jalur kurang begitu tepat dan efektif. pendidikan satu jalur baru lebih efektif bila wajib belajar lebih tinggi dari yang ada sekarang.

Jauh sebelum PBB pada tahun 1970-an memprakarsai “pendidikan seumur hidup-PSH” (Lite Long Integrated Education), dalam Islam pada abad ketujuh telah ditegaskan: Uthlub al’ilma min al-mahdi ila al-lahdi (tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s