JENIS-JENIS TANAH

A.    Tanah

Tanah adalah bagian kerak bumi yang tersusun dari mineral dan bahan organik serta terdiri dari massa padatan, cair, gas. Tanah merupakan lapisan paling atas pada permukaan bumi. Tanah tercipta tidak dengan sendirinya, melainkan berasal dari hasil pelapukan bebatuan dan tumbuhan yang perosesnya membutuhkan waktu bertus-ratus tahun. Proses pembentukan tanah sangat dipengaruhi oleh iklim, bentuk muka bumi, tumbuhan, berbagai organisme yang hidup diatasnya termasuh hewan, manusia dan waktu.

Tumbuhan, hewan, dan manusia sendiri juga memerlukan tanah untuk tempat hidup. Tumbuh-tumbuhan tidak dapat bertahan hidup tanpa ada lapisan tanah. Lapisan tanah juga menyediakan bahan-bahan makanan dan mineral guna pertumbuhan tanaman. Kemudian tumbuhan itu dimanfatkan oleh hewan dan manusia.

B.     Jenis-Jenis Tanah

Interaksi antara factor-faktor pembentukan tanah akan menghasilkan tanah dengan sifat-sifat yang berbeda. Berdasarkan pada faktor pembentuk dan sifat tanah, beberapa ahli mengklasifikasikannya dengan klasifikasi yang berbeda-beda.

Jenis-jenis tanah itu adalah sebagai berikut:

a.      Tanah Humus

Pengertian

Humus adalah tanah yang sangat subur terbentuk dari lapukan daun dan batang pohon. Humus biasanya dikenal sebagai sisa-sisa tumbuhan dan hewan yang mengalami perombakan oleh organism dalam tanah , berada dalam keadaan stabil, berwarna coklat kehitaman. Secara kimia humus didefinisikan sebagai suatu kompleks organik makromolekuler yang mengandung banyak kandungan fenol, asam karboksilat, dan alifatik hidroksida.

Cirri-ciri

  • Biasanya berwarna gelap di lapisan tanah atas
  • Tidak setabil apabila terjadi perubahan suhu, kelembapan, dan aerasi
  • Bersifat koloidal
  • Luas permukan dan daya serap tinggi
  • Kapasitas tukar kation 150-300 me/100 g
  • Dapat meningkatkan unsur hara

Manfaat

Humus memiliki konstribusi besar terhadap kebertahanan dan kesuburan tanah. Humus merupakan sumbermakanan bagi tanaman dan berperan baik bagi pertumbuhan dan menjaga struktur tanah. Senyawa humus juga berperan baik dalam pengikatan bahan kimia toksik dalam tanah dan air. Selain itu humus dapat meningkatkan kapasitas kandungan air tanah, membantu dalam menahan pupuk onorganik larut-air, mencegah penggerusan tanah,menaikkan aerasi tanah, dan menaikkan fotokimia dekomposisi pestisida atau senyawa-senyawa organik toksit.

b.      Tanah Organosol/ Tanah Gambut

Pengertian

Tanah gambut adalah jenis tanah yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk, oleh sebab itu kandungan bahan organiknya tinggi.

Banyak terdap[at di rawa Sumatra, rawa Kalimantan, dan rawa Papua. Tanah ini tidak cocok untuk pertanian maupun perkebunan karena derajat keasamannya tinggi.

Cirri-ciri

  • Berwarna coklat hingga kehitaman
  • Bertekstur debulempung
  • Tidak berstruktur
  • Konsistensi tidak lekat sampai dengan agak lekat
  • Kandungan unsure hara rendah

Macam gambut di Indonesia

  • Gambut topogen

Adalah lapisan tanah gambut yang terbentuk karena genangan air yang terhambat drainasenya pada tanah cekung di belakang pantai, di pedalaman atau di pegunungan. Gambut jenis ini umumnya tidak begitu dalam, hingga sekitar 4 m saja, tidak begitu asam airnya dan relatif subur; dengan zat hara yang berasal dari lapisan tanah mineral di dasar cekungan, air sungai, sisa-sisa tumbuhan, dan air hujan. Gambut topogen relatif tidak banyak dijumpai.

  • Gambut omborogen

Gambut ombrogen lebih sering dijumpai, meski semua gambut ombrogen bermula sebagai gambut topogen. Gambut ombrogen lebih tua umurnya, pada umumnya lapisan gambutnya lebih tebal, hingga kedalaman 20 m, dan permukaan tanah gambutnya lebih tinggi daripada permukaan sungai di dekatnya. Kandungan unsur hara tanah sangat terbatas, hanya bersumber dari lapisan gambut dan dari air hujan, sehingga tidak subur. Sungai-sungai atau drainase yang keluar dari wilayah gambut ombrogen mengalirkan air yang keasamannya tinggi (pH 3,0–4,5), mengandung banyak asam humusdan warnanya coklat kehitaman seperti warna air teh yang pekat. Itulah sebabnya sungai-sungai semacam itu disebut juga sungai air hitam.

Gambut ombrogen kebanyakan terbentuk tidak jauh dari pantai. Tanah gambut ini kemungkinan bermula dari tanah endapan mangrove yang kemudian mongering, kandungan garam dan sulfida yang tinggi di tanah itu mengakibatkan hanya sedikit dihuni oleh jasad-jasad renik pengurai. Dengan demikian lapisan gambut mulai terbentuk di atasnya. Penelitian di Sarawak memperlihatkan bahwa gambut mulai terbentuk di atas lumpur mangrove sekitar 4.500 tahun yang lalu, pada awalnya dengan laju penimbunan sekitar 0,475 m/100 tahun (pada kedalaman gambut 10–12 m), namun kemudian menyusut hingga sekitar 0,223 m/100 tahun pada kedalaman 0–5 m. Agaknya semakin tua hutan di atas tanah gambut ini tumbuh semakin lamban akibat semakin berkurangnya ketersediaan hara.

c.       Tanah Liat/ Lempung

Lempung atau tanah liat mengandung leburan silika dan/atau aluminium yang halus. Unsur-unsur ini, silikonoksigen, dan aluminum adalah unsur yang paling banyak menyusun kerak bumi. Lempung terbentuk dari proses pelapukan batuan silika oleh asam karbonat dan sebagian dihasilkan dari aktivitas panas bumi.

Lempung membentuk gumpalan keras saat kering dan lengket apabila basah terkena air. Sifat ini ditentukan oleh jenis mineral lempung yang mendominasinya. Mineral lempung digolongkan berdasarkan susunan lapisan oksida silikon dan oksida aluminium yang membentuk kristalnya. Golongan 1:1 memiliki lapisan satu oksida silikon dan satu oksida aluminium, sementara golongan 2:1 memiliki dua lapis golongan oksida silikon dan satu lapis oksida aluminium. Mineral lempung golongan 2:1 memiliki sifat elastis yang kuat, menyusut saat kering dan membesar saat basah. Karena perilaku inilah beberapa jenis tanah dapat membentuk kerutan-kerutan atau “pecah-pecah” bila kering.

d.      Tanah Aluvial

Tanah aluvial biasnyan terdapat di sepanjang aliran sungai. Tanah aluvial berasal dari material halus yang diendapkan di aliran sungai dan merupakan jenis tanah yang masih muda karena belum mengalami perkembangan.

e.       Tanah Berpasir

Tanah yang kurang baik bagi pertanian. Terbentuk dari pelapukan batuan beku serta sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil.

Tanah berpasir ini cirinya butiran pasirnya sangat banyak, mudah menyerap air namun sangat sulit ditumbuhi oleh tumbuh-tumbuhan. Biasanya tanah berpasir ini dimanfaatkan sebagai campuran semen dalam pemasangan batu bata.

f.       Tanah Vulkanik/ Regosol

Tanah ini merupakan endapan abu vulkanik baru yang memiliki butir kasar. Penyebaran terutama pada daerah lereng gunung api. Tanah vulkanik ini sangat mudah menyerap air dan banyak mengandung unsur hara sehingga sangat baik jika dimanfaatkan sebagai lahan pertanian. Tanah ini banyak terdapat di daerah Sumatra bagian timur dan barat, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

g.      Tanah Latosol

Jenis tanah ini biasanya terdapat pada daerah beriklim basah yang curah hujannya lebih dari 300mm/tahun dan berada di dataran tinggi yang berkisar antara 300-1.000 meter. Bahan utama pembentuk tanah jenis ini berasal dari bebatuan gunung berapi yang mengalami proses pelapukan.

h.      Tanah Grumosol

Jenis ini berasal dari batu kapur, batuan lempung, tersebar di daerah iklim subhumid atau subarid, dan curah hujan kurang dari 2.500 mm/tahun.

  • Cirri-ciri
    –     Warna tua/kelam

–          Tekstur lempung

–          Struktur atas granuler, struktur bawah gumpal atau pejal  Konsistensi liat tinggi

–          Koefisien kembang kerut tinggi

–          Bahan induk adalah batu kapur, batu napal, tuff, endapan aluvial, dan abu vulkanik

–          Topografi agak bergelombang hingga berbukit dengan CH < 2.500 mm/th

–          Solum tanah dalam (+ 75 cm)

–          Peka terhadap erosi dan bahaya longsor

PEMBIAKAN DENGAN STEK

A.    Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Pembiakan secara tak kawin atau aseksual merupakan dasar dari pembiakan vegetatif, yaitu tanaman dapat membentuk kembali jaringan-jaringan dan bagian-bagian lain. Dimana pada beberapa tanaman pembiakan vegetatif merupakan prose alami yang sempurna atau merupakan proses dari buatan manusia. Perbanyakan secara vegetatif adalah cara perkembangbiakan tanaman dengan menggunakan bagian tanman seperti batang, cabang, ranting, pucuk daun, umbi, dan akar.

Pembiakan vegetatif  ini pada dasarnya memiliki prinsip, yaitu merangsang tunas adventif yang ada pada bagian-bagian tanaman yang akan di gunakan sebagai pembiakan vegetatif tersebut agar berkembang menjadi tenaman baru yang sempurna dimana memiliki akar, batang, dan daun. Pembiakan vegetatif ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu: stek, okulasi, penyambungan, dan cangkok. Penyetekan merupakan suatu perlakuan pemisahan, pemotongan beberapa bagian seperti akar, batang, daun, tunas dengan tujuan bagian-bagian dari tanaman ini dapat menghasilkan individu baru. Perbanyakan dengan stek biasanya dilakukan pada tanaman dikotil. Pada tanaman monokotil masih jarang, namun pada tanaman tertentu yang dapat terkontrol kondisinya dapat dilakukan.

Perbanyakan melalui stek tidak memerlukan proses atau cara yang rumit, dimana dengan perbanyakan tanaman stek ini memiliki keunggulan yaitu dapat menghasilkan baru dalam jumlah yang banyak walaupun bahan tanaman yang tersedia terbatas dan dapat menghasilkan tanaman yang sama sifatnya dengan induknya. Selain adanya keunggulan, perbanyakan tanaman secara stek terdapat juga kelemahan baik secara fisiologis maupun morfologi dalam pertumbuhan tanaman yaitu perbanyakan tanaman secara stek ini memiliki akar serabut yang dimana akar serabut pertumbuhan tanamannya rentan yaitu sangant mudah roboh pada keadaan ikim yang kurang mendukung seperti angin kencang, tanah selalu jenuh, dsb sehingga perakarannya dangkal, membutuhkan tanaman induk yang lebih besar dan lebih banyak sehingga membutuhkan biaya yang banyak dan dalam perbanyakan tanaman secara stek tingkat keberhasilanya sangat rendah.

2. Tujuan

Praktikum dengan judul “Pembiakan Dengan Stek ” ini memiliki tujuansebagai berikut:

  • untuk mengenal dan mempelajari teknik pembiakan vegetatif, macam tanman yang dapat dikembangbiakan dengan stek.
  • untuk mengetahui dan mempelajari pertumbuhan stek yang berasal dari stek batang tanaman melati.

B.     Metode

  1. Waktu dan Tempat

Praktikum dengan judul “Pembiakan Dengan Stek ” ini dilaksanakan mulai tanggal 03 Juni 2011 di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Alat dan Bahan

a. Alat

  • Polybag
  • Cetok
  • Ember

b. Bahan

  • Batang tanaman melati
  • Tanah
  • Kompos
  • Air

c. Cara Kerja

  1. Menyiapkan media tanam dengan komposisi pasir: kompos: tanah = 1:1:2 dan memasukkannya kedalam polybag, serta membasahi media tanam dengan air.
  2. Memotong-motong batang melati menjadi tiga bagian yaitu batang bagian pangkal, pucuk, dan tengah.
  3. Menanam bagian-bagian batang melati kedalam polybag, dan disirami tiap hari.
  4. Mengamati dan mencatat pertumbuhan tunas, dan daun. Serta jumlah akar pada akhir.

C.    Hasil dan Pembahasan

  1. Hasil

Tabel 5.1 Jumlah Tunas dan Daun Tanaman Melati

Bagian

Minggu ke-

1

2

3

Tunas

Daun

Tunas

Daun

Tunas

Daun

Pangkal

1

2

2

3

3

4

Tengah

0

0

1

2

1

4

Pucuk

1

1

1

2

1

2

Sumber: Laporan Sementara

Tabel 5.2 Jumlah Akar Melati

Bagian

Jumlah Akar

Pangkal

3

Tengah

2

Pucuk

1

Sumber: Laporan Sementara

2. Pembahasan

Melati merupakan tanaman bunga hias berupa perdu berbatang tegak yang hidup menahun (perennial). Panjang atau tinggi tanaman dapat mencapai tinggi tiga meter atau lebih, batangnya berkayu, dan bercabang banyak seolah-olah merumpun. Bunganya bervariasi ada yang putih, kuning cerah, dan pink muda tergantung pada jenisnya atau spesiesnya.

a. Klasifikasi melati:

Kingdom   : Plantae

Divisi         : Spermatophyta

Subdivisi   : Angiospermae

Kelas         : Dicotyledonae

Ordo          : Oleales

Famili        : Oleaceae

Genus        : Jasminum

Spesies      : Jasminum sambac (L) W. Ait.

b. Jenis-jenis melati

Di antara 200 jenis melati yang telah diidentifikasi oleh para ahli botani baru sekitar 9 jenis melati yang umum dibudidayakan dan terdapat delapan jenis melati yang potensial untuk dijadikan tanaman hias. Sebagian besar jenis melati tumbuh liar di hutan-hutan karena belum terungkap potensi ekonomi dan sosialnya. Tanaman melati termasuk suku melati-melatian atau Oleaceae (Anonim, 2011).

Jenis, varietas dan ciri-ciri penting (karakteristik) tanaman melati dalam (Anonim, 2011) adalah sebagai berikut:

Adapun jenis dan varietes Melati yang ada di Pulau Jawa antara lain:

Stek tanaman merupakan sebuah perlakuan yang disengaja oleh manusia dengan melakukan pemisahan atau pemotongan beberapa bagian tanaman. Bagian-bagian tanaman dipotong, seperti akar, batang, daun, dan tunas, untuk mendapatkan anakan baru dengan sifat seperti induknya. Stek umumnya dilakukan pada tanaman dikotil. Bagi tanaman monokotil, teknik stek tanaman masih jarang diterapkan meskipun ada beberapa tanaman monokotil yang bisa distek, seperti asparagus (Aneahira, 2011).

Setek  juga merupakan salah satu cara pembiakan vegetatif buatan, yaitu dengan cara memotong bagian dari tubuh tanaman agar muncul perakaran baru. Bagian tanaman yang dapat disetek antara lain : bagian akar, batang, daun maupun tunas (Beckett, K. B. 2005).

Setek dapat dibedakan menurut bagian tanaman yang diambil untuk bahan setek : Setek akar, misalnya pada jambu biji, cemara, albezzia dan aesculus. Setek batang, misalnya rhizome, tuber, softwood dan intermediate. Setek daun, misalnya sanzevera, begonia. Setek tunas, misalnya pada tanaman anggur (Tejasarwana, 2005).

Faktor penentu keberhasilan stek secara umum dikelompokkan menjadi faktor internal dan eksternal. Faktor internal terdiri dari: ketersediaan air, cadangan makanan hormon endogen, umur tanaman dan jenis tanaman. Faktor eksternal terdiri dari: media perakaran, kelembaban udara, suhu, intensitas cahaya, teknik penyiapan stek (Supriyanto, 1996).

Hasil dari stek tanaman melati pada batang bagian pangkal, pucuk, dan tengah tanaman. Diketahui bahwa jumlah tunas dan daun terbanyak selama tiga minggu adalah pada bagian pangkal batang kemudian diikuti batang bagian pucuk, lalu yang terakhir batang bagian tengah. Begitupun dengan jumlah akar juga sama yaitu jumlah akar terbanyak terdapat pada batang bagian pangkal, dikuti batang bagian tengah, lalu pucuk. Disini pengaruh bagian batang pangkal, pucuk, atau pun tengah tidaklah memiliki pengaruh yang berarti. Tapi mungkin stek yang dilakukan pada batang bagian pangkal akan lebih cepat tumbuh karena bagian batang yang lebih tua akan cepat beradaptasi dengan media tanam.

Faktor yang mendukung pertumbuhan dalam penyetekan adalah matahari yang tidak langsung mengenai tanamna. Suhu sekitar dan kelembapan media tanam yang terjaga, tidak terlalu kering atau basah. Dan satu lagi sebenarnya penyetekan lebih baik di tanam di media tanam yang tidak tercampur dengan pupuk apapun. Hal ini dikarenakan potongan batang belum ditumbuhi akar dan organ lain. Dikhawatirkan dengan adanya pupuk justru akan menghambat hingga mematikan potongan batang tanaman.

D.    Kesimpulan dan Saran

  1. Kesimpulan

Dari hasil dan pembahasan praktikum dapat diambil beberapa kesimpulan sebagi berikut:

  • Penyetekan adalah teknik perbanyakan tanaman secara tidak kawin yaitu dengan memotong bagian tanaman untuk mendapatkan individu baru yang sama dengan tetuanya
  • Stek biasanya banyak dilakukan pada tanaman dikotil.
  • Stek ada beberapa macam yaitu: stek akar, batang, daun, dan tunas.
  • Perawatan secara maksimal pada masa petumbuhan tanaman perlu diperlukan secara intensif agar diperoleh hasil yang maksimal.
  • Manfaat penyetekan adalah : memperoleh tanaman yang sama atau lebih unggul dari induknya dan waktu yang dibutuhkan untuk perbanyakan relatif singkat.

2. Sarana

Adapun saran yang dapat diberikan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

  • Alat yang digunakan untuk memotong hendaknya steril atau terbebas dari kuman agar pertumbuhan tanaman dapat tumbuh secara maksimal
  • Sebelum ditanam sebaiknya daun-daun yang masih ada disetiap bagian disobek-sobek untuk mengurangi intensitas penguapa.
  • Perawatan yang meliputi penyiraman dan penyiangan hendaknya dilakukan secara rutin agar pertumbuhan tanaman sesuai harapan.

PENYAMBUNGAN TANAMAN

A.    Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Perbanyakan generatif sudah sangat umum dijumpai, bahan yang digunakan adalah biji. Biji-biji ini biasanya sengaja disemaikan untuk dijadikan tanaman baru, tapi bisa juga tanpa disengaja biji-biji yang dibuang begitu saja dan oleh alam ditumbuhkan untuk menjadi tanaman baru. Tentu saja tanaman baru hasil buangan ini bisa dijadikan bibit, apabila diketahui segala sifat-sifat kelebihannya. Ini untuk menghindari agar tidak kecewa nantinya, setelah tanaman berbuah misalnya.

Untuk menghindari rasa buah yang mengecewakan, bisa saja memanfaatkan tanaman hasil buangan itu sebagai tanaman batang bawah. Batang atasnya dapat menggunakan tanaman sejenis yang diketahui sifat-sifat unggulnya (untuk tanaman buah-buahan) atau warna bunganya (bagi tanaman hias bunga) dan kecepatan pertumbuhan serta kelurusan batang pohon (untuk tanaman kehutanan) perbanyakan dengan cara ini kita sebut dengan perbanyakan Sambungan (Grafting).

Grafting ini bukanlah sekedar pekerjaan menyisipkan dan menggabungkan suatu bagian tanaman, seperti cabang, tunas, akar pada tanaman yang lain. Melainkan sudah merupakan suatu seni yang sudah lama dikenal dan banyak variasinya. Dan seni grafting ini telah digemari sejak dua abad yang lalu, yaitu sekitar abad ke-15 (Wudianto, 2002) .

2. Tujuan

Praktikum penyambungan tanman ini memiliki tujuan yaitu untuk mengetahui pengaruh cara penyambungan tanaman.

B.     Metode

  1. Waktu dan Tempat

Praktikum “Penyambungan Tanaman” ini dilakukan mulai tanggal 04 Mei 2011 di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Alat dan Bahan

a. Alat

  • Pisau Okulasi
  • Gunting
  • Tali raffia atau plastik

b. Bahan

  • Polibag dan Media Tanam
  • 2 Tanaman adenium yang berjenis sama

c. Cara Kerja

  1. Menyiapkan media tanam pada polybag dan membasahi dengan air secukupnya
  2. Membuat bentuk irisan untuk batang bawah
  3. Membuat bentuk irisan untuk batang atas
  4. Menyambungkan batang bawah dan batang atas sesuai bentuk irisannya
  5. Mengikat dengan tali raffia atau plastik pada bidang sambungan yang telah dilekatkan
  6. Memelihara tanaman hasil penyambungan.

C.    Hasil dan Pembahasan

  1. Hasil

Praktikum penyambungan tanaman ini sebelumnya memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh cara penyambungan tanaman. Yaitu dengan cara Grafting waterval dan Grafting crimpson star, namun nyatanya dari tanaman yang kita sambung tidak ada tanaman yang berhasil tumbuh atau penyambungan gagal.

2. Pembahasan

a. Klasifikasi
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Asteridae
Ordo: Gentianales
Famili: Apocynaceae
Genus: Adenium
Spesies: Adenium arabicum

Adenium adalah tanaman sukulen, yaitu tanaman yang memiliki batang yang tidak berkayu. Semua sel dalam batang adenium adalah sel hidup atau meristematik, dengan kandungan air yang sangat besar, yang juga sebagai cadangan untuk kehidupannya. Itulah mengapa, tanaman adenium mampu tumbuh di daerah yang sangat kering.

Adenium berasal dari daerah gurun pasir yang kering, dari daratan afrika. Sebutannya disana adalah Mawar Padang Pasir. Karena berasal dari daerah kering, tanaman ini lebih menyukai kondisi media yang kering dibanding terlalu basah.  Akar adenium yang membesar seperti umbi adalah tempat menyimpan air. Akar yang membesar ini bila dimunculkan diatas tanah akan membentuk kesan unik seperti bonsai. Sedangkan batangnya lunak tidak berkayu, namun dapat membesar (Zulhendra, 2010)

Tunas-tunas samping dapat tumbuh dari mata tunas pada batang atau bekas daun yang gugur. Mata tunas samping tersebut akan tumbuh apabila pucuk atas tanaman dipotong. Hal inilah yang dilakukan orang pada saat memangkas, untuk mendapatkan cabang dan daun baru serta agar bunga yang akan muncul nantinya lebih serempak. Adenium tergolong juga kedalam tanaman monokotil atau tanaman dengan biji berkeping tunggal, yang memiliki sifat tidak memiliki kambium. Sifat umum inilah yang akan menentukan tata cara penyambungan atas tanaman adenium (Anonim, 2010).

b. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam penyambungan

  • Kebersihan alat yang digunakan
  • Keadaan batang tanaman yang akan disambung
  • Lingkungan disekitar tanaman yang disambung
  • Keterampilan pemotongan dan
  • Penyambungan
  • Pemeliharaan pasca penyambungan

c. Faktor-faktor penyebab kegagalan

  • Pengikat sambungan kurang kuat

Bila pengikattan tidak kuat akan menyebabkan beberapa masalah seperti. Pertama batang atas akan mudak terlepas atu berubah posisi ketika tersenggol. Batang atas tidak menempel dengan sempurna dengan batang bawah jadi permukaan batang yang maenempel dengan permukaan bidang bawah menjadi tidak merata sehingga menghalangi penyatuan jaringan antara batang dan transmisi supply dari batang bawah menjadi tidak lancar bahkan tidak berhasil sama sekali. Akibatnya batang akan menjadi kering (Sardijanto, 2006).

  • Pengikat sambungan terlalu kuat

Jika penngikat terlalu kuat dapat menyebabkan sebagian jaringan kapiler tertekan. Dengan demikian, akan menyebabkan persoalan seperti: menghambat penyaluran supply ke batang atas. Menyebabkan getah atu cairan pada batang atas terperas terutama bila batang atas terlalu muda (Sardijanto, 2006).

  • Terjadi penguapan yang berlebih

Bila penguapan terjadi secara berlebih, maka biasanya uap air banyak yang menempel peda dinding plastik bagian dalam dan kemudian turun menyatu mengenai bagian batang penyambungan, yang akan menyebabkan pembusukan pada bagian yang terkena air. Penguapan berlebih juga bisa menyebabkan tumbuhnya jamur pada batang atas terutama bila peralatan yang digunakan tidak steril ditambah faktor kelembapan yang tinggi.

  • Batang bawah terlalu muda

Penggunaan batang bawah yeng terlalu muda akan membawa resiko kegagalan. Jadi sebaiknya menggunakan batang bawah yang sudah siap digunakan dalam penyambungan.

  • Batang atas terlalu muda

Penggunaan batang atas  yang terlalu muda juga akan membawa resiko kegagalan. Jadi sebaiknya menggunakan batang bawah yang sudah siap digunakan dalam penyambungan.

  • Batang atas terlalu pendek

Penggunan batang atas sebaiknya menggunakan batang dengan panjang 5-8 cm yang berisi calon mata tunas 4-6 buah, bila menggunakan batang yang terlalu pendek maka tingkat keberhasilanya akan kecil.

  • Terlalu cepat terkena sinar matahari langsung

Hal ini kan menyebabkan penguapan yang berlebih, dan nantinya akan menyebabkan persoalan sama seperti dalam permasalahan terjadinya penguapan yang berlebih yaiti tanaman membusuk atau berjamue.

  • Terlalu cepat terkena air

Bila tanaman terlalu cepat terkenair kemungkinan bagian sambungan akana ikut terkena dan akan mengakibatkan batang membusuk atau berjamur.

  • Suhu setempat terlalu tinggi

Untuk mendukung keberhasilan penyambungan suhu haruslah sesuai, bila suhu terlalu panas atau dingin ini nantinya tidak akan baik.

  • Kelembapan relative terlalu tinggi

Kelembapan setempat akan berpengaruh tumbuhnya jamur pada daerah sekitar penyambungan, dan apabila peralatan yang digunakan sebelumnya tidak steril.

  • Peralatan yang di gunakan tidak steril

Apabila peralatan yang digunakan tidak steril nantinya akan menyebabkan tumbuhnya bakteri atau jamur yang akan menghambat penyatuan jaringan antara batang atas dan batang bawah.

  • Keterampilan

Keterampilan disini adalah cara kita memotong sudah benar dan baikkah, karena bila pemotongan salah bisa-bisa akan merusak jaringan pada batang yang akan kita sambung.

  1.  Kelebihan dan kekurangan dari penyambungan
    1. Kelebihan dari penyambungan sendiri antara lain: mempertahankan sifat-sifat klon yang tidak dapat dilakukan pada pembiakan vegetatif lainnya seperti stek, cangkok dan lain-lainnya. Bisa memperoleh tanaman yang kuat karena batang bawahnya tahan terhadap keadaan tanah yang tidak menguntungkan, temperatur yang rendah, atau gangguan lain yang terdapat di dalam tanah. Memperbaiki jenis-jenis tanaman yang telah tumbuh, sehingga jenis yang tidak di inginkan diubah dengan jenis yang dikehendaki. Dapat mempercepat berbuahnya tanaman (untuk tanaman buah buahan) dan mempercepat pertumbuhan pohon dan kelurusan batang (jika tanaman kehutanan).
    2. Kekurangan dari penyambungan adalah bagi tanaman kehutanan, kemungkinan jika pohon sudah besar gampang patah jika ditiup angin kencang. Tingkat keberhasilannya rendah jika tidak cocok antara scion dan rootstock (Suwandi, 2009).

D.    Kesimpulan dan Saran

  1. Kesimpulan

Dari praktikum acara penyambungan tanaman ini, maka dapat diambil kesimpulan antara lain :

  • Keberhasilan suatu sambungan ditentukan oleh kualitas batang bawah dan batang atas .
  • Keterampilan dan ketelitian dalam proses penyambungan tanaman juga berpengaruh.
  • Kebersihan alat yang bdigunakan juga harus diperhatikan.
  • Faktor iklim juga sangat mempengaruhi tingkat keberhasilan sambungan.
  • Tanaman yang telah disambung perlu perawatan terus menerus

2. Saran

Untuk memperoleh hasil penyambungan yang baik, maka perlu memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

  • Batang atas dan batang bawah harus comtibel.
  • Bagian kambium dari kedua batang harus lurus, untuk itu batang atas dan bawah harus sama besar.
  • Penyambungan dilakukan pada tahap fisiologi yang tepat.
  • Alat yang dignakan harus steril
  • Perawatan yang tepat terhadap tanaman yang disambungkan.

PERLAKUAN PEMANGKASAN TANAMAN

A.    Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Pemangkasan adalah suatu tindakan pembuangan sebagian dari bagian tanaman dengan maksud untuk menumbuhkan atau merangsang pembungaan dan pembuahan kearah yang dikehendaki. Di dalam pola pertumbuhan tanaman, pertumbuhan ujung batang yang dilengkapi dengan daun muda apabila mengalami hambatan, maka pertumbuhan tunas akan tumbuh ke arah samping yang dikenal dengan “tunas lateral” misalnya saja terjadi pemotongan pada ujung batang (pucuk), maka akan tumbuh tunas pada ketiak daun. Fenomena ini kita namakan “apical dominance“.

Hubungan antara auksin dengan apical dominance pada suatu tanaman telah dibuktikan oleh Skoog dan Thimann. Dalam eksperimennya, pucuk tanaman kacang dibuang, sebagai akibat treatment tersebut menyebabkan tumbuhnya tunas di ketiak daun. Dari ujung tanaman yang terpotong itu diletakan blok agar yang mengandung auksin. Dari perlakuan tersebut ternyata bahwa tidak terjadi pertumbuhan tunas pada ketiak daun. Hal ini membuktikan bahwa auksin yang ada di apical bud menghambat tumbuhnya tunas lateral (Wawan, 2009).

Pertumbuhan tunas lateral menimbulkan terbentuknya cabang batang yang cukup banyak pada ketiak batang utama. Di lain pihak pemangkasan pucuk batang menyebabkan pertumbuhan tunas apikal terhambat sehingga tanaman tidak terlalu tinggi dan mempunyai cabang yang banyak sehingga pembentukan bunga banyak. Bunga yang banyak tersebut dapat diartikan sebagai adanya hasil tanaman yang baik.

Praktikum pemangkasan ini dilakukan pada tanaman tomat (Licopersicum esculantum) dan Zat Pengatur Tumbuh yang terdapat pada tanaman tomat adalah Thyamin piridoksin yang dibentuk di daun. Hal serupa juga untuk pertumbuhan dan perkembangan buah, embrio, dan kuncup yang berhubungan dengan zat pertumbuhan yang dibentuk oleh tanaman. Dalam melakukan pemangkasan adanya faktor-faktor lingkungan, faktor  perlakuan, faktor tanaman.

2. Tujuan

Tujuan dari praktikum “Perlakuan Pemangkasan Tanaman” yaitu untuk mengetahui pengaruh pemangkasan tanaman terhadap pertumbuhaan dan hasil tanaman.

B.     Metode

  1. Waktu dan Tempat

Praktikum “Perlakuan Pemangkasan Tanaman” ini dilakukan mulai tanggal 04 Mei 2011 di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Alat dan Bahan

a. Alat

  • Polybag
  • Penggaris/ Meteran
  • Pisau / gunting

b. Bahan

  • Dua bibit tanaman tomat ( Lycopersicum esculentum )
  • Tanah
  • Kompos

 c. Cara Kerja

  1. Menyiapkan media tanam yaitu, tanah dan kompos serta polybag dan air secukupnya.
  2. Mencampur tanah dan kompos dengan perbandingan 1:1 kemudian basahi dengan air dan masukkan benih kedalam polybag.
  3. Menanam dua bibit tanaman tumat (Lycopersicum esculentum) pada polybag yang berisi media tanam tadi.
  4. Merawat dan mencatat perubahan yang terjadi disetiap minggunya.
  5. Melakukan pemangkasan pucuk dengan memangkas ujung tanaman tomat setelah berumur 15 HST terhadap satu tanaman saja. Sedangkan pada satu tanaman lainnya sebagai kontrol.
  6. Merawat dan mencatat perubahan yang terjadi disetiap minggunya setelah pemangkasan.

C.    Hasil dan Pembahasan

  1. Hasil

Tabel 3.1 Tinggi Tunas Lateral Tanaman Tomat

Minggu ke-

Tinggi Tunas (cm)

Kontrol

Perlakuan

Bawah-Tunas

Bawah-Pangkal

Pangkal-Tunas

1

15

0

0

0

2

20

1

0,25

0,75

3

31

9

3

6

4

38

20

8

12

5

53

28

10

18

6

94

76,5

24

52,5

Sumber: Laporan Sementara

Tabel 3.2 Variabel Pengamatan Tanaman Tomat

Variabel Pengamatan

Minggu ke-

Kontrol

Perlakuan

Jumlah Tunas Lateral

1

0

0

2

0

2

3

0

2

4

0

3

5

1

4

6

2

5

Jumlah Bunga

1

0

0

2

0

0

3

0

0

4

0

0

5

0

0

6

0

0

Jumlah Buah

1

0

0

2

0

0

3

0

0

4

0

0

5

0

0

6

0

0

Berat Buah

1

0

0

2

0

0

3

0

0

4

0

0

5

0

0

6

0

0

Sumber: Laporan Sementara

2. Pembahasan

Tomat di Indonesia adalah komoditas holtikultura yang penting, tetapi produksinya baik kualitas dan kuantitas masih rendah. Hal ini disebabkan antara lain tanah yang keras, kurang unsure hara mikro serta hormon, pemupukan tidak berimbang, serangan hama dan penyakit, pengaruh cuaca, dan iklim, serta teknis budidaya petani.

Tomat adalah salah satu jenis sayuran yang banyak digemari masyarakat karena rasanya yang enak dan segar serta sebagai sumber vitamin. Hal ini penting untuk kebutuhan rumahtangga. Selain untuk konsumsi segar sebagai buah meja, juga dapat dijadikan sari buah tomat untuk minuman segar dan sauce tomat untuk bumbu masak. Dengan laju pertumbuhan penduduk yang pesat, maka kebutuhan akan buah tomat meningkat, sehingga ada peluang yang besar untuk mengembangkan komoditi tomat sekaligus meningkatkan produksi tomat (Niar, 2007).

Tomat (Licopersium esculantum) adalah suatu tanaman setahun yang berbentuk perdu dan termasuk dalam family Solanaceae. Tomat dapat ditanam dimana saja baik di dataran tinggi (pegunungan) atau dataran rendah. Syarat yang penting untuk petumbuhan adalah tanah yang gembur, sarang (sedikit mengandung pasir), subur (banyak mengandung humus atau bunga tanah). Tanah liat yang sedikit mengandung pasir adalah yang paling disenangi dengan derajat keasaman (pH 5-6). Tomat peka terhadap zat makanan dalam tanah yang sedikit kelebihan atau kekurangan terutama nitrogen (Rukmana, 1994).

a. Klasifikasi tomat

Kingdom               : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom          : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi          : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi                     : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas                     : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas              : Asteridae

Ordo                      : Solanales

Famili                    : Solanaceae (suku terung-terungan)

Genus                    : Solanum

Spesies      : Solanum lycopersicum L

Tujuan dilakukannnya pemangkasan adalah untuk menumbuhkan atau merangsang pembungaan dan pembuahan pada tanaman tomat. Pada tanaman buah pemangkasan bertujuan untuk menjaga kesehatan dan meningkatkan produksi pada tanaman buah, pemangkasan mampu menjaga kelembaban tanaman sehingga tidak mudah terserang hama dan penyakit.

Tunas lateral merupakan subyek pengamat korelasi oleh tunas apikal sehingga jika tunas apikal dipangkas maka hanya tunas lateral paling atas yang tumbuh denagn cepat sehingga tunas basal tetap terhambat. Penghambatan tunas lateral tergantung pada konsentrasi hormon auksin yang diberikan pada permukaan batang yang dipotong. Sebuah pemberian auksin eksogen pada sebuah tanaman yang dipotong akan merangsang prtumbuhan pucuk tanaman (Elvindra, 2009).

Pemangkasan dilakukan sebagai upaya pengurangan persaingan di antara bagian satu dengan bagian lain dalam satu tanaman atau di antara tanaman satu dengan tanaman lainnya dengan mengurangi/membuang beberapa cabang, pucuk atau bagian tanaman lainnya, sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang diharapkan. Adapun tujuan pemangkasan pada tanaman tomat adalah mengendalikan keseimbangan pertumbuhan vegetatif dan reproduktif untuk meningkatkan hasil, memperbesar buah dan mempercepat proses pemasakan buah. Sementara pangkasan pada tanaman tomat dapat dibedakan dalam tiga macam yaitu pangkasan bentuk, pangkasan bentuk dan pangkasan tunas-tunas di ketiak cabang atau tangkai daun (Anonim, 2010).

Di dalam pola pertumbuhan tanaman, pertumbuhan ujung batang yang dilengkapi dengan daun muda apabila mengalami hambatan, maka pertumbuhan tunas akan tumbuh ke arah samping yang dikenal dengan “tunas lateral” misalnya saja terjadi pemotongan pada ujung batang (pucuk), maka akan tumbuh tunas pada ketiak daun. Fenomena ini kita namakan “apical dominance“. Hubungan antara auksin dengan apical dominance pada suatu tanaman telah dibuktikan oleh Skoog dan Thimann. Dalam eksperimennya, pucuk tanaman kacang dibuang, sebagai akibat treatment tersebut menyebabkan tumbuhnya tunas di ketiak daun. Dari ujung tanaman yang terpotong itu diletakan blok agar yang mengandung auksin. Dari perlakuan tersebut ternyata bahwa tidak terjadi pertumbuhan tunas pada ketiak daun. Hal ini membuktikan bahwa auksin yang ada di apical bud menghambat tumbuhnya tunas lateral (Wawan, 2009).

Pengaruh pemangkasan pada tanaman tomat yang mendapat perlakuan pemangkasan memiliki jumlah tunas yang lebih banyak ketimbang tanaman tomat yang tidak mendapat perlakuan (kontrol). Dari sini sudah dapat dilihat bahwa dengan melakukan pemangkasan akan mempengaruhi atau merangsang hormon yang mengakibatkan tanamn tidak tumbuh terlalu tinggi, namun akan lebih banyak tumbuh cabang-cabang yang nantinya adalah tembat tumbuh bunga dan buah.

Tanaman kontrol dengan tanaman perlakuan perbedaannya sudah sangat sesuai dengan tujuan dari pemangkasan itu sendiri. Dimana disini tanman kontrol memiliki ketinggian yang lebih dibanding tanaman perlakuan.  Ini karena pertumbuhan tunas apical pada tanaman kontrol tidak terhambat, sedang pada tanaman kontro mengalami pemangksan. Dan jumlah tunas lateral yang tumbuh diketiak-ketiak lebih banyak terdapat di tanaman perlakuan.

D.     Kesimpulan dan Saran

  1. Kesimpulan

Dari hasil dan pembahasan praktikum dapat diambil beberapa kesimpulan sebagi berikut:

  • Tanaman yang tunas apikalnya tidak dipangkas akan menghambat pertumbuhan tunas lateral yang  disebut dominasi apical dan apabila tunas apikalnya dilakukan pemangkasan maka akan tumbuh tunas lateral.
  • Pemangkasan pada tanaman tomat berpengaruh nyata terhadap tumbuh tunas leteral.
  • Manfaat pemangkasan antara lain, Unsur hara yang diserap tanaman akan dimamfaatkan semaksimal mungkin oleh tanaman untuk memperbesar buah yang dipelihara, intensitas cahaya matahari yang masuk ketanaman lebih banyak sehingga akan mengurangi terjadinya serangan hama penyakit, beban batang tanaman tidak terlalu berat untuk menyangga buah sehingga, kerobohan dapat dikurangi.
  • Pemangkasan tunas apical mempunyai tujuan untuk meningkatkan produktifitas tanaman.

2. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

  • Dalam melakukan pemangkasan sebaiknya pada saat batang tanaman setelah berumur 15 hari setelah tanam.
  • Pemangkasan dibuat miring agar air tidak menggenang pada batang yang akan mengakikbatkan batang menjadi busuk.
  • Perawatan yang meliputi penyiraman dan penyiangan hendaknya dilakukan secara rutin agar pertumbuhan tanaman sesuai harapan.

PEMUPUKAN LEWAT DAUN

A.    Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Pupuk adalah zat yang ditambahkan kedalam media tanam atau tanaman guna mencukupi kebutuhan hara yang tidak bisa dipenuhi oleh tanah tempat tumbuhnya. Fungsi dan manfaat pupuk telah diketahui orang. Tak sedikit yang hapal fungsi masing-masing unsur hara penyusun pupuk. Nitrogen (N) bermanfaat untuk daun, phospor (P) untuk pembungaan, dan kalium (K) untuk buah. Banyak buku, majalah, dan brosur pertanian yang menjelaskan hal tersebut.

Material atau zat pupuk dapat berupa bahan organik ataupun non-organik (mineral). Pupuk berbeda dari suplemen, pupuk mengandung bahan baku yang diperlukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman, sementara suplemen seperti hormon tumbuhan membantu kelancaran proses metabolisme. Meskipun demikian, ke dalam pupuk, khususnya pupuk buatan, dapat ditambahkan sejumlah material suplemen. Dalam pemberian pupuk perlu diperhatikan kebutuhan tumbuhan tersebut, agar tumbuhan tidak mendapat terlalu banyak zat makanan. Terlalu sedikit atau terlalu banyak zat makanan dapat berbahaya bagi tumbuhan.

Diantara sekian banyak metode pemupukan salah satunya adalah pemupukan lewat daun. Pemupukan lewat daun ini mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. Kelebihan pemupukan lewat daun ini diantaranya adalah penyerapan unsure haranya lebih cepat, bisa ditambahkan unsur mikro, karena pupuk (kimia) yang dilewatkan akar kebanyakan hanya megandung unsur hara makro saja, kecuali kalau tanah sering diberi pupuk organik maka pupuk hara mikro tersedia juga. Tidak terjadi pengikatan unsur hara seperti halnya tanah dimana sebagian unsur hara akan diikat dengan kuat oleh partikel tanah dan sulit untuk dilepaskan sehingga tanah akan terhindar dari kerusakan.

Penyemprotan pupuk lewat daun ini sebaiknya di berikan pada bagian bawah permukaan daun. Karena stomata daun lebih banya terdapat dibawah permukaan daun. Dan penyemprotan sebaiknya dilakukan pada pagi hari atu sore hari. Hal ini berkaitan dengan sinar matahari yang diterima tanaman, bila terlalu panas maka daun akan mengalami penguapan yang besar dan semua unsure yang disemprotkan akan ikut menguap juga. Jadi semua akan sia-sia sebab semua unsure yang diberikan tidak dapat digunakan atau diserap tanaman secara efektif.

2. Tujuan

Praktikum acara “Pemupukan Lewat Daun” ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk daun terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman.

B.     Metode

  1. Waktu dan Tempat

Praktikum acara “Pemupukan Lewat Daun” ini dilakukan mulai tanggal 04 Mei 2011 di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Alat dan Bahan

a. Alat

  • Polybag
  • Takaran
  • Sprayer
  • Penggaris
  • Ember plastik
  • Gunting
  • Cetok
  • Timbangan

b. Bahan

  • Koran
  • Benih sawi (Bransica rafa )
  • Pupuk daun Gandasil D
  • Tanah
  • Air

c. Cara Kerja

  1. Mengambil tanah yang telah disediakan ke dalam polybag dan mengambil pupuk kandang dengan perbandingan 2:1.
  2. Mengaduk campuran tanah dan pupuk kandang hingga merata ke dalam ember plastik. Kemudian menaruh campuran tanah dan pupuk kandang ke dalam polybag dan membasahinya dengan air secukupnya.
  3. Memasukkan bibit sawi kedalam media tanam, menyiram benih setiap pagi dan mengamati pertumbuhan setiap seminggu sekali.
  4. Mencatat tinggi tanaman yang diamati seminggu sekali dan melakukan penyemprotan pada daun sesuai perlakuanya.
  5. Menimbang berat segar brangkasan dan Menimbang berat kering brangkasan pada akhir panen

C.    Hasil dan Pembahasan

  1. Hasil

Tabel 2.1 Tinggi Tanaman sawi

Perlakuan

Minggu ke- (cm)

1 (cm)

2 (cm)

3 (cm)

4 (cm)

5 (cm)

6 (cm)

Kontrol 6 8 10 12 16 19,5
14 HST 4,3 5 6 8 8,5 13
21 HST 5 6,5 8 8,5 9 14
28 HST 5 7 8,5 9 9,5 10,5

Sumber: Laporan Sementara

Grafik 2.1 Tinggi Tanaman Sawi

Tabel 2.2 Jumlah Daun Sawi

Perlakuan

Minggu ke- (helai)

1

2

3

4

5

6

Kontrol 4 10 16 21 26 31
14 HST 3 7 13 20 31 40
21 HST 2 5 8 10 12 16
28 HST 5 10 20 28 32 44

Sumber: Laporan Sementar

Tabel 2.3 Berat Berangkasan Segar dan Kering tanaman sawi

Perlakuan

Berat Segar Berangkasan (gr)

Berat Kering Berangkasan (gr)

Kontrol 4,18 0,29
14 HST 0,54 0,04
21 HST 0,54 0,03
28 HST 0,68 0,05

Sumber: Laporan Sementara

2. Pembahasan

Sawi atau Caisin (Brassica sinensis L) termasuk famili Brassicaceae, daunnya panjang, halus, tidak berbulu, dan tidak berkrop. Sawi mengandung pro vitamin A dan asam askorbat yang tinggi. Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi.

Batang tanaman sawi pendek sekali dan beruas-ruas sehingga hampir tidak kelihatan. Batang ini berfungsi sebagai alat pembentuk dan penopang daun. Tanaman sawi umumnya mudah berbunga dan berbiji secara alami baik di dataran tinggi maupun di dataran rendah. Stuktur bunga sawi tersusun dalam tangkai bunga (inflorescentia) yang tumbuh memanjang (tinggi) dan bercabang banyak. Tiap kuntum bunga sawi terdiri atas empat helai daun kelopak, empat helai daun mahkota bunga berwarna kuning cerah, empat helai benang sari dan satu buah putik yang berongga dua (Rukmana, 2002).

a. Klasifikasi Sawi

Divisi         : Spermatophyta

Subdivisi   : Angiospermae

Kelas         : Dicotyledone

Ordo          : Rhoeadalea (Brassicales)

Family       : Cruciferae (Brassicaceae)

Genus        : Brassica

Spesies      : Brassica juncea

Sistem perakaran tanaman sawi memiliki akar tunggang dan cabang-cabang akar yang bentuknya bulat panjang (silindris) menyebar kesemua arah dengan kedalaman antara 30-50 cm. Akar-akar ini berfungsi antara lain mengisap air dan zat makanan dari dalam tanah, serta menguatkan berdirinya batang tanaman (Sunarjono, 2004).

b. Jenis-Jenis Sawi

Petani kita hanya mengenal 3 macam sawi yang biasa dibudidayakan yaitu: sawi putih (sawi jabung), sawi hijau, sawi huma.

  • Sawi putih (Brassica rugosa

Sawi putih, suku sawi-sawian atau Brassicaceae dikenal sebagai sayuran olahan dalam masakan Tionghoa, karena itu disebut sawi cina. Disebut sawi putih karena daunnya cenderung kuning pucat dan tangkai daunnya putih. Sawi putih beraroma khas namun netral.

  • Sawi hijau (Brassica juncca)

Varietas ini berdaun besar dan hidup di tanah kering, dari tanaman yang sama ini rasanya agak tajam.

  • Sawi huma (Brassica juncea)

Varietas yang satu ini berbatang panjang dan berdaun sempit. Tanaman ini tak tahan terhadap hujan, tidak mudah diserang oleh ulat. Sawi ini berbulu dan rasanya tajam, biasanya banyak ditemukan  di sawah-sawah dan hanya dimakan di pedalaman.

Sawi bukan tanaman asli Indonesia, menurut asalnya di Asia. Karena Indonesia mempunyai kecocokan terhadap iklim, cuaca dan tanahnya sehingga dikembangkan di Indonesia ini. Tanaman sawi dapat tumbuh baik di tempat yang berhawa panas maupun berhawa dingin, sehingga dapat diusahakan dari dataran rendah maupun dataran tinggi. Meskipun demikian pada kenyataannya hasil yang diperoleh lebih baik di dataran tinggi. Daerah penanaman yang cocok adalah mulai dari ketinggian 5 meter sampai dengan 1.200 meter di atas permukaan laut. Namun biasanya dibudidayakan pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 meter sampai 500 meter dpl.

Tanaman sawi tahan terhadap air hujan, sehingga dapat di tanam sepanjang tahun. Pada musim kemarau yang perlu diperhatikan adalah penyiraman secara teratur. Berhubung dalam pertumbuhannya tanaman ini membutuhkan hawa yang sejuk. lebih cepat tumbuh apabila ditanam dalam suasana lembab. Akan tetapi tanaman ini juga tidak senang pada air yang menggenang. Dengan demikian, tanaman ini cocok bils di tanam pada akhir musim penghujan. Tanah yang cocok untuk ditanami sawi adalah tanah gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7 (Zuldesains, 2008).

Pemberian pupuk bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman, sehingga pupuk diberikan pada saat yang menunjukkan sejumlah kebutuhan tanaman akan pupuk itu agar diperoleh keuntungan yang tinggi. Selain itu pemupukan bertujuan  untuk memperbaiki tingkat kesuburan tanah agar tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas pertumbuhan tanaman. Pupuk adalah senyawa yang diberikan kedalam tanah atu bagian lain tanamn yang dapat mempertahankan atau menambah kesuburan tanah (Alpine, 2010).

Pemupukan melalui daun memberikan pengaruh yang lebih cepat terhadap tanaman dibanding lewat akar. Kecepatan penyerapan hara juga dipengaruhi oleh status hara dalam tanah. Bila kadar hara dalam tanah rendah maka penyerapan unsur hara melalui daun relatif lebih cepat dan sebaliknya bila kadar hara dalam tanah tinggi maka penyerapan unsur hara melalui daun relative rendah.  Pupuk daun merupakan pupuk organik yang mengandung unsur makro dan mikro (tunggal dan majemuk) dalam bentuk padat atau cair yang dapat langsung diserap oleh daun tanaman (Rosmarkam dan Yuwono, 2002)

Pengaruh pemberian pupuk yang didasarkan hari setelah tanam didapatkan bahwa tanaman dengan perlakuan penyemprotan pada 28 hari setelah tanam (HST) dari minggu pertama hingga minggu ke delapan adalah tanaman yang memiliki jumlah daun terbanyak, sedang tanaman yang memiliki jumlah dau terkecil adalah tanaman dengan perlakua penyemprotan pada 21 hari setelah tanam (HST). Sebenarnya  pengaruh pemberian pupuk sudah terlihat perbedaanya dari masing-masing perlakuan kerena pada data diketahui bahwa dari tanaman yang diberi pupuk pada 28 HST memiliki jumlah daun terbanyak, kemudian diikuti tanaman dengan perlakuan penyemprotan pada 14 HST, dan control, kecuali pada tanaman dengan perlakuan 21 HST memiliki jumlah daun yang lebih sedikit ketimbang yang lain dikarenakan tanaman pada perlakuan ini diserang hama pemakan daun.

Perbedaan antara tanaman kontrol dengan  tanamn perlakuan disini, sangatlah berbeda jauh. Dengan melihat dari jumlah daun dapat diketahui bahwa tanaman kontrol jumlah daunya dibawah tanaman perlakuan kecuali yang mengalami gangguan hama atau penyakit. Jadi pemberian pupuk memberikan perbedaan pada pertumbuhan daun. Namun pada pertumbuhan tinggi tanaman, dan berat segar berangkasan serta berat kering berangkasan tanamn kontrol lebih besar ketimbang tanam kontrol. Hal ini mungkin terjadi kerena faktor alam seperti kandungan hara yang di butuhkan oleh tanaman tidak semua terpenuhi oleh tanah. Penyinaran matahari, suhu, pemberian air yang kurang.

D.    Kesimpulan dan Saran

  1. Kesimpulan

Dari hasil dan pembahasan praktikum dapat diambil beberapa kesimpulan sebagi berikut:

  • Pupuk merupakan salah satu faktor penting dalam pertumbuhan dan hasil tanaman.
  • Pupuk daun dapat memenuhi unsure mikro yang di perlukan oleh tanaman.
  • Kandungan utama dari pupuk daun adalah NPK yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman.
  • Pemberian pupuk pada dau lebih cepat dampaknya ketimbang pemupukan lewat akar.
  • Keadaan unsur hara dalam tanag juga mempengaruhi proses keberhasilan pemupukan lewat daun.

2. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

  • Perawatan tanaman seperti penyiraman hendaknya dilakukan secara rutin.
  • Pemberian pupuk harus memperhatikan waktu yang tepat agar pupuk yang diberikan akan berguna secara efektif.
  • Pemupukan juga harus memperhatikan dosis dan konsentrasi penyemprotan.

KEDALAMAN DAN MEDIA TANAM

A.    Pendahuluan

  1. Latar Belakang

Media tanaman merupakan media atau tempat tanaman dimana tanaman atau biji dapat tumbuh dan berkembang. Contohnya seperti tanah, air, kapas, dan jenis-jenis yang lain. Saat ini dalam kehidupan sehari-hari atau dalam perkebunaan, tanah selalu menjadi media tanam bagi benih yang akan ditanam. Tanah sendiri terbagi menjadi beberapa macam yang mulai dari tanah humus, tanah organosol, tanah liat atau lempung, tanah alluvial, tanah vulkanik, tanah latosol, tanah gromosol, dan lain sebagaianya.

Masing-masing tanah itu sendiri memiliki kandungan berbeda-beda, dimana kandungan-kandungan itu belum tentu dibutuhkan oleh tanaman, jadi ada tanah yang memerlukan pengolahan dan tidak memerlukan pengolahan sebelum digunakan sebagai media tanam. Selain tanah, air juga dapat digunakan sebagai media tanam, khususnya untuk tanaman hiproponik. Jadi dapat dilihat bahwa kegunaan antara berbagai media tanam itu juga berbeda-beda. Tidak hanya kegunaan saja yang berbeda tetapi juga pengaruhnya terhadap pertumbuhan. Pengaruh tersebut dapat disebabkan karena setiap media tanam mengandung unsure-unsur dan struktur yang berbeda-beda.

Selain media tanam kedalam tanam juga memiliki pengaruh terhadap tanaman. Pada pembibitan atau penanaman benih pengaturan posisi dan kedalam benih sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan awal bibit dan mentukan kualitas sistim perakaran. Demikian pula dengan kedalam media tanam yang berpengaruh pada perkecambahan dan keberhasilan tumbuhnya bibit.

Tanaman jagung sendiri memiliki syarat pertumbuhan, tanaman jagung berasal dari daerah tropis. Namun jagung dapat menyesuaikan  diri dengan lingkungan diluar daerah tersebut. Hal ini disebabkan variasi sifat pada sejumlah jenis jagung yang memiliki kemampuan beradaptasi dengan baik.

Media tanam (tanah) disini harus mempunyai kandungan hara yang cukup. Tersedianya zat makan didalam tanah sangat menunjang proses pertumbuhan tanaman hingga mengahsilkan atau bereproduksi. Tanaman jagung tidak memerlukan tanah yang khusus, hampir berbagai  macam tanah dapat diusahakan untuk tanaman jagung. Tetapi jagung yang ditanam pada tanah gembur, subur, dan kaya akan humus dapat member hasil yang baik. Disamping itu drainase dan aerasi yang baik serta pengelolaan yang bagus akan membantu keberhasilan usaha penanaman jagung.

2. Tujuan

Untuk mengetahui pengaruh kedalaman media tanam terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

B.     Metode

  1. Waktu dan Tempat

Praktikum “Kedalaman Dan Media Tanam” ini dilakukan mulai tanggal 04 Mei 2011 di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Alat dan Bahan

a. Alat

  • Penggaris
  • Cetok
  • Timbangan
  • Ember
  • Gunting
  • Oven
  • Polybag
  • Koran
  • Strerples

b. Bahan

  • Benih Jagung (Zea mays)
  • Kompos
  • Tanah
  • Air

c. Cara Kerja

  1. Menggemburkan tanah sesuai prosedur pengolahan tanah.
  2. Kemudian memasukkan tanah tersebut bersama kompos kedalam polybag sesuai perlakuan masing- masing ke dalam polybag yaitu B1: tanah, B2: tanah + kompos dengan perbandingan 4:1, B3: tanah dan kompos dengan perbandingan 2:1.
  3. Lalu mengaduk-aduk dengan rata dan membasahi media tanam tersebut dengan air secukupnya.
  4. Menanam benih sesuai perlakuan yaitu A1 dengan kedalaman tanam 1cm, A2 dengan kedalaman tanam 2cm dan dipelihara sampai panen. Serta mencatat tinggi tanaman untuk setiap minggunya.
  5. Membersihkan jagung sampai akar dari tanah pada waktu panen dan menimbangnya serta mencatatnya.
  6. Memasukkan jagung yang telah dibersihkan kedalam oven, lalu menimbangnya kembali sebagai berat kering dan mencatatnya.

C.    Hasil dan Pembahasan

  1. Hasil

Tabel 1.1 Tinggi Tanaman Jagung

Perlakuan

Minggu ke-

1 (cm)

2 (cm)

3 (cm)

4 (cm)

5 (cm)

6 (cm)

A1B1

18

37,5

47

49

53,5

57,5

A1B2

20

36,5

39

45

65

75

A1B3

16

30

34

42

67

83

A2B1

17

41

42,5

50

54,5

62

A2B2

15

34

39

46

71

86

A2B3

14

31

37

53

74

93

Sumber: Laporan Sementara

Grafik 1.1 Tinggi Tanaman Jagung

Tabel 1.2 Berat Segar Berangkasan

No

Perlakuan

Berat (gr)

1

A1B1

6

2

A1B2

10,48

3

A1B3

17,02

4

A2B1

8,68

5

A2B2

18,81

6

A2B3

24,91

Sumber: Laporan Sementara

Tabel 1.3 Berat Kering Berangkasan

No

Perlakuan

Berat (gr)

1

A1B1

1,6

2

A1B2

1,86

3

A1B3

2,5

4

A2B1

1,86

5

A2B2

2,38

6

A2B3

3,58

Sumber: Laporan Sementara

2. Pembahasan

Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan.

  • Klasifikasi tanaman jagung:

Kingdom               : Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisio                   : Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Sub Divisio           : Angiospermae (berbiji tertutup)

Classis                   : Monocotyledone (berkeping satu)

Ordo                      : Graminae (rumput-rumputan)

Familia                  : Graminaceae

Genus                    : Zea

Species                  : Zea mays L.

  • Jenis jagung dapat dikelompokkan menurut umur dan bentuk biji.

Menurut umur, dibagi menjadi 3 golongan:

  • Berumur pendek (genjah): 75-90 hari, contoh: Genjah Warangan, Genjah Kertas, Abimanyu dan Arjuna.
  • Berumur sedang (tengahan): 90-120 hari, contoh: Hibrida C 1, Hibrida CP 1 dan CPI 2, Hibrida IPB 4, Hibrida Pioneer 2, Malin,Metro dan Pandu.
  • Berumur panjang: lebih dari 120 hari, contoh: Kania Putih, Bastar, Kuning, Bima dan Harapan.

Menurut bentuk biji, dibagi menjadi 7 golongan:

  • Dent corn (Zea mays indentata = jagung gigi kuda)
  • Flint corn (Zea mays indurate = jagung Mutiara)
  • Sweet corn (Zea mays L. saccharta = jagung manis)
  • Pop corn  (Zea mays L. everta Sturt = jagung brondong)
  • Flour corn atau softy corn (Zea mays L. amylacea Sturt = jagung tepung)
  • Pod corn (Zea mays L. tunicate Sturt = jagung bungkus)
  • Waxy corn ((Zea mays L. certain Kulesch)

Jagung merupakan tanman monokotil atau tanaman biji berkeping tunggal. Dimana tanamn monokotil memiliki perkecambahan hipogeal, yaitu perkecambahan biji yang kotiledonnya tetap berada di dalam tanah. Pada fase perkecambahn ini dapat di bedakan kedalam tiga tahap yaitu menurut (Bambang,  2008):

  • Masuknya air yang berdampak melunakkan kulit biji
  • Di dalam terjadi metebolisme atau perubahan secara biologis dan kimia (biokhemis)
  • Terjadi pembelahan sel-sel pada jaringan titik tumbuh, baik calon akar maupun calon batang yang diikuti dengan calon akar menembus kulit biji.

Biji yang dikecambahkan, mula-mula secara imbibisi menyerap air dan udara hingga menyebabkan terjadi pembengkakan pada biji. Perpaduan antara air bersama aerasi (udara) yang bagus pada temperature optimum untuk perkecambahanmengakibatkan terjadinya proses perubahan yang disebut proses biokhemis yaitu cadangan makanan. Demikian pula pernapasan semakin giat yang menghasilkan tenaga (Kemal Prihatman, 2000).

Tenaga ini dipergunakan untuk mengangkut zat-zat yang larut ke jaringan-jaringan titik tumbuh calon akar dan calon batang, sehingga terjadi pembelahan sel-sel pada jaringan titik tumbuh. Dengan pembelahan pada jaringan titik tumbuh yang giat maka akan mengakibatkan pemanjangan bagian (organ) dari biji yang pertama yaitu calon akar (radicle) biasanya 2-3 hari setelah tanam. Kemudian diikuti oleh calon batang (plumule) coleoptiles keluar dari kulit biji 1-2 hari berikutnya dan memanjang (AAK, 1993).

Pengertian dari perkecambahan (berkecambah) itu sendiri adalah proses fisiologis yang terjadi di dalam biji yang dapat menyebabkan terjadinya aktivitas/ kegiatan jaringan-jaringan plumule dan radical yaitu calon batang dan calon akar, hingga menembus kulit biji. Akhirnya calon tersebut tumbuh menjadi tanaman baru. Factor-foktor yang mempengaruhi perkecambahan adalah pertama factor dalam biji yang meliputi cadangan makanan (endosperm), dimana cadangan makanan di dalam biji harus cukup untuk persediaan makanan selama proses perkecambahan hingga kecambah dapat mencari makanan sendiri dari dalam tanah. Keadaan embrio, embrio harus dalam keadaan hidup dan sehat. Sebab benih dengan keadaan tersebut akan menentukan proses pertumbuhan berikutnya dan menentukan produksi yang akan dicapai. Faktor kedua adalah faktor lingkungan diantaranya air, udara yang mengandung O2, sinar matahari yang mementukan suhu untuk perkecambahan biji (Suprapto, 2000)

Kedalaman penanaman dan penutupan lubang sangatlah penting pengaruhnya terhadap perkecambahan benih. Kondisi benih yang baik dan lingkungan yang mendukung. Termasuk kelembapan dalam tanah dan suhu juga sangat mempengaruhi perkecambahan (Djoko, 2006)

Pertumbuhan tanaman jagung dilihat dari tingginya dan pertumbuhannya perminggu dari minggu pertama hingga minggu ke delapan didapatkan tanaman jagung dengan tinggi dan pertumbuhan tercepat adalah tanaman pada perlakuan A2B3 dengan ketentuan kedalaman tanam 2 cm dan media tanam dengan komposisi perbandingan tanah dan kompos 2:1, yang semula pertumbuhannya pada minggu pertama adalah yang paling lambat. Sedang pertumbuhan dan tinggi tanaman terkecil hingga minggu ke delapan adalah pada perlakuan A1B2 dengan ketentua kedalaman tanam 1 cm dan media tanam tanah: kompos = 4:1 yang semula pada minggu pertama mengalami pertumbuhan yang tertinggi kedua, namun mulai terhambat pertumbuhanya pada mingu-minggu terakhir. Dari semua perlakuan dapat diketahui bahwa pertambahan panjang mengalami tidaklah konsisten (fluktruasi) ada minggu dimana pertambahan panjang tak seberapa, kemudian minggu berikutnya menanjak, dan minggu berikutnya naik lagi, hal ini terjadi hamper di semua perlakuan kecuali pada perlakuan A1B1 yang pertumbuhan dan penambahan tingginya dari minggu ke minggu menurun.

Berat segar brangkasan terbesar adalah pada perlakuan A2B3 ini seimbang dengan tinngi pertumbuhan yang tertinggi pula. Sedang berat segar brangkasan terkecil didapat pada perlakuan A1B1 yang ternyata juga mengalami pertumbuhan terenda. Berat keringpu juga tak berbeda jauh dengan berat segar, dimana berat terbesar pada perlakuan A2B3 dan terkecil pada A1B1. Semua ini mungkin di pengaruhi oleh kedalam media tanam yaitu sesuai dengan tipe perkecambahan jagung yaitu monokotil, dimana membutuhkan penanaman yang cukup dalam. Dan juga semua ini dipengaruhi oleh kandungan oksigen, air dalam tanah.

D.    Kesimpulan dan Saran

  1. Kesimpulan

Dari hasil dan pembahasan praktikum dapat diambil beberapa kesimpulan sebagi berikut:

  • Kedalaman dan penutupan luba pada penanaman bibit sangat berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
  • Media tanam juga sangat berpengaruh dalam menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman, karena dari tanahlah tanaman mendapatkan bahan makanan.
  • Keadaan bibit juga memilki pengaruh kerena dengan bibit yang baik maka perkecambahan dapat berlangsung dengan baik yangn kemujdian akan diimbangi dengan pertumbuhan dan perkembangannya.
  • Faktor lingkungan seperti air, udara yang mengandung oksigen, cahaya juga berpengaruh pada pertumbuhan tanaman.

2. Saran

Adapun saran yang dapat diberikan dari praktikum ini adalah sebagai berikut:

  • Dalam pencampuran bahan media tanam sebaiknya menggunakan takaran yang benar-benar tepat sesuai aturan.
  • Dalam membuat lubang seharusnya menggunakan alat khusus seperti tugal miksalnya, agar kedalamnya benar-benar tepat dengan ketentuan.
  • Prawatan pada tanaman harus benar-benar di lakukan secara tepat juga.

INOVASI DAN REPRESENTASI

INOVASI DAN REPRESENTASI

A.    Inovasi

  1. Pengertian

Menurut etimologi inovasi berasal dari kata innovation yang bermakna ‘pembaharuan: perubahan (secara) baru’. Inovasi juga diartikan saebagai penemuan, tetapi berbeda maknanya dengan penemuan dalam arti diskoveri atau invensi. Diskoveri mempunyai makna penemuan sesuatu yang sesuatu itu telah ada sebelumnya, tetapi belum diketahui orang. Invensi adalah penemuan  yang benar-benar baru sebagai hasil kreasi manusia. Inovasi adalah  suatu ide, produk, metode yang dirasakan sebagai sesuatu yang baru, baik berupa hasil diskorversi ataupun invensi yang digunakan untuk tujuan tertentu.

Rogers dan Shoemaker mengartikan inovasi sebagai idi-ide baru, praktik-praktik baru, atau objek-objek yang dapat dirasakan sebagai sesuatu yang baru oleh masyarakat atau individu yang menjadi sasaran. Pengertian baru bukan hanya sekedar baru diketahui oleh pikiran melainkan juga baru karena belum dapat diterima secara luas oleh seluruh masyarakat.

Pengertian inovasi tidak hanya terbatas pada benda atau barang hasil produksi, tetapi juga mencakup sikap hidup, perilaku, atau gerakan-gerakan menuju proses perubahan di dalam segala bentuk tata kehidupan masyarakat. Jadi, secara umum, inovasi berarti suatu ide, produk, informasi teknologi, kelembagaan, perilaku, nilai-nilai, dan praktik-praktik baru yang belum banyak diketahui, diterima, dan digunakan/diterapkan oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu, yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala aspek kehidupan masyarakat demi terwujudnya perbaikan mutu setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang bersangkutan.

2. Kerakteristik Inovasi

Rogers mengemukakan lima karakteristik inovasi:

  1. keunggulan relatif (relative advantage)
  2. kompatibilitas (compatibility)
  3. kerumitan (complexity)
  4. kemampuan diujicobakan (trialability)
  5. kemampuan untuk diamati (observability)

Keunggulan relatif adalah derajat di mana suatu inovasi dianggap lebih baik/ unggul daripada yang pernah ada. Hal ini dapat diukur dari beberapa segi, seperti segi ekonomi, prestise sosial, kenyamanan, dan kepuasan. Semakin besar keunggulan relatif dirasakan oleh pengadopsi, semakin cepat inovasi tersebut dapat diadopsi.

Kompatibilitas adalah derajat di mana inovasi tersebut dianggap konsisten dengan nilai-nilai yang berlaku, pengalaman masa lalu, dan kebutuhan pengadopsi. Sebagai contoh, jika suatu inovasi atau ide baru tertentu tidak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku, inovasi itu tidak dapat diadopsi dengan mudah sebagaimana halnya dengan inovasi yang sesuai (compatible).

Kerumitan adalah derajat di mana inovasi dianggap sebagai suatu yang sulit untuk dipahami dan digunakan. Beberapa inovasi tertentu ada yang dengan mudah dapat dimengerti dan digunakan oleh pengadopsi dan ada pula yang sebaliknya. Semakin mudah dipahami dan dimengerti oleh pengadopsi, semakin cepat suatu inovasi dapat diadopsi.

Kemampuan untuk diujicobakan adalah derajat di mana suatu inovasi dapat diuji coba batas tertentu. Suatu inovasi yang dapat diujicobakan dalam seting sesungguhnya umumnya akan lebih cepat diadopsi. Jadi, agar dapat dengan cepat diadopsi, suatu inovasi harus mampu mengemukakan keunggulannya.

Rogers mengemukakan ada empat faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi:

1.  struktur sosial (social structure)

2.  norma sistem (system norms)

3.  pemimpin opini (opinion leaders)

4.  agen peubah (change agent)

Struktur sosial adalah susunan suatu unit sistem yang memiliki pola tertentu. Struktur ini memberikan keteraturan dan stabilitas perilaku setiap individu (unit) dalam suatu sistem sosial tertentu. Struktur sosial juga menunjukkan hubungan antaranggota dari sistem sosial. Hal ini dapat dilihat pada struktur organisasi suatu perusahaan atau struktur sosial masyarakat suku tertentu. Penelitian yang dilakukan oleh Rogers dan Kincaid di Korea menunjukkan bahwa adopsi suatu inovasi dipengaruhi oleh karakteristik individu dan juga sistem sosial tempat individu tersebut berada.

Norma adalah suatu pola perilaku yang dapat diterima oleh semua anggota sistem sosial yang berfungsi sebagai panduan atau standar bagi semua anggota sistem sosial. Sistem norma juga dapat menjadi faktor penghambat untuk menerima suatu ide baru. Hal ini sangat berhubungan dengan derajat kesesuaian (compatibility) inovasi dengan nilai atau kepercayaan masyarakat dalam suatu sistem sosial. Jadi, derajat ketidaksesuaian suatu inovasi dengan kepercayaan atau nilai-nilai yang dianut oleh individu (sekelompok masyarakat) dalam suatu sistem sosial berpengaruh terhadap penerimaan suatu inovasi.

Pemimpin opini yaitu orang-orang tertentu yang mampu mempengaruhi sikap orang lain secara informal dalam suatu sistem sosial. Pemimpin opini dapat menjadi pendukung inovasi atau sebaliknya, menjadi penentang. Ia (mereka) berperan sebagai model di mana perilakunya (baik mendukung atau menentang) diikuti oleh para pengikutnya. Jadi, pemimpin opini (opinion leaders) memainkan peran dalam proses keputusan inovasi.

Agen peubah merupakan bentuk lain dari pemimpin opini. Mereka sama-sama orang yang mampu mempengaruhi sikap orang lain untuk menerima suatu inovasi. Akan tetapi, agen peubah lebih bersifat formal yang ditugaskan oleh suatu agen tertentu untuk mempengaruhi kliennya. Agen peubah adalah orang-orang profesional yang telah mendapatkan pendidikan dan pelatihan tertentu untuk mempengaruhi kliennya. Dengan demikian, kemampuan dan keterampilan agen peubah berperan besar terhadap diterima atau ditolaknya inovasi tertentu. Sebagai contoh, lemahnya pengetahuan tentang karakteristik struktur sosial, norma dan orang kunci dalam suatu sistem sosial (misal: suatu institusi pendidikan), memungkinkan ditolaknya suatu inovasi walaupun secara ilmiah inovasi tersebut terbukti lebih unggul dibandingkan dengan yang sedang berjalan saat itu

B.     REPRESENTASI

Representasi adalah konsep yang memiliki beberapa pengertian. Representasi adalah proses perubahan konsep-konsep idiologi yang abstrak dalam bentuk-bentuk yang kongkret.

Representasi biasanya dipahami sebagai gambaran sesuatu yang akurat atau realita yang terdistorsi. Representasi tidak hanya berarti “to present”, “to image”, atau “to depict”. Representasi adalah sebuah cara dimana memaknai apa yang diberikan pada benda atau sesuatu yang digambarkan. Konsep lama mengenai representasi ini didasarkan pada premis bahwa ada sebuah gap representasi yang menjelaskan perbedaan antara makna yang diberikan oleh representasi dan arti benda yang sebenarnya digambarkan. Hal ini terjadi antara representasi dan benda yang digambarkan.

Representasi itu terbuka pada pengetahuan-pengetahuan baru untuk diproduksi dalam dunia, berbagai macam subyektivitas untuk dieksplor, dan dimensi baru makna yang tidak pernah menutup sistem kekuasaan yang sedang beroperasi.

C.    Inovasi dan Representasi dalam Manajemen

Pentingnya fungsi inovasi karena dalam kedudukan sebagai manajer dituntut untuk lebih kreatif bila dibanding dengan orang-orang lain yang bukan manajer. Manajer juga dituntut untuk menjalin hubungan dengan kelompok luar atau organisasi lainnya, inilah yang disebut representasi.

Fungsi inovasi dan representasi akan lebih memperjelas bahwa memimpin bukanlah suatu pekerjaan,akan tetapi sebagai pemimpin atau manajer dituntut suatu kreativitas yang dapat menghasilkan sesuatu yang baru.fungsi representasi menunjukkan bahwa seseorang manajer dapat bertindak selaku utusan atau mewakili yang dipimpinnya berhubungan dengan organisasi lain.